√Koleksi Uang Jaman Dulu Peninggalan Nenek
Header catatantirta.com

Koleksi Uang Jaman Dulu Peninggalan Nenek

 



Bismillah
Mengingat kembali cerita pertama saat saya menemukan uang koin yang asing. Sekitar tahun 90-an ketika saya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Pohon rambutan di sisi kiri rumah sedang berbuah lebat. Sengaja saya berteduh di bawahnya sambil bermain.  Saya sencari kepingan genteng yang akan dipakai untuk main bersama teman-teman. Masa itu, rumah-rumah di permukiman kami masih menggunakan genteng tanah liat sebagai atap rumah. Anak-anak seperti saya senang menggunakan pecahan genteng untuk bermain jual-jualan atau bermain engklek. Ketika sibuk memilih kepingan genteng, pandangan mata saya dikejutkan oleh sebuah logam kecil di balik batu. Saya mencungkilnya agak dalam untuk mengeluarkan logam berwarna perak tersebut. Sebuah logam perak berbentuk lingkaran dengan lubang kecil di tengahnya. Logam ini ringan seperti uang koin tahun sekarang. Ada angka dan tahun di layar muka dan belakangnya. Saya tidak mengenal logam tersebut. Namun, dilihat dari bentuk dan isinya logam bulat itu adalah uang koin. Keunikannya adalah logam perak ini berlubang di bagian tengahnya.

Saya membersihkan tanah yang menembel di sekitar koin. Tak cukup menggosoknya, saya pun melanjutkan mencucinya dengan air hingga semua tanah yang menempel  hilang dan koin pun bersih. Setelah bersih saya mengamati koin dengan lebih detail. Tertulis kata Sen dan ada angka 1 di satu sisi koin. Kalau tidak salah ada bilangan tahun yang tercantum  yaitu 1952. Koin logam masih terlihat bagus hanya kusam di banyak sisi. Sebagai anak-anak, saya pikir logam itu rusak karena berlubang. Tapi bentuknya yang unik membuat saya sangat tertarik dan bersemangat untuk menyimpannya. Saku kanan menjadi tempat aman bagi koin yang saya temukan.

Setelah mencuci koin beberapa kali, koin tersrbut tak kunjung mengkilat. Masih saja kusam dan ada semacam jamur di beberapa lokasi. Tak berselang lama, nenek pulang dari kebun di tepi hutan. Nenek membawa sebakul kunyit yang masih berlapis tanah. Segera saya berlari kecil menghampiri nenek dan membantunya menurinkan bakul. Salah satu rutinitas yang sering saya lakukan ketika di rumah adalah melakukan apapun bersama nenek.

Kunyit yang dibawa nenek ditumpahkan ke atas barisan karung. Sisa-sisa tanah yang menempel pada kunyit dibersihkan lagi. Sambil beristirahat, nenek duduk membersihkan sisa tanah. Ino sih namanya bukan istirahat ya. Pada kesempatan ini saya pun ikut duduk di dekat nenek. Menurunkan tangan dan membuang sisa-sisa tanah dari bagian terluar kunyit. Bersamaan dengan itu, saya ke luarkan koin perak yang kemarin saya temukan. Saya tunjukkan pada nenek sambil bertanya, 
"Nek, ini koin apa ya?"
Nenek meraih dan mengamati koin itu. Melihat satu sisi kemudian membaliknya ke sisi lain.

"Oh, ini uang 1 Sen". Ucap nenek singkat.
"Uang? Tapi Dita ga pernah lihat uang seperti ini, Nek". Jawabku membolak-balikkan koin perak tersebut.

Nenek menjelaskan bahwa uang Sen itu dipakai sekitar tahun 1952 sesuai dengan angka yanf tertulis di satu sisi koin. Jaman dulu penggunaan uang masih beragam jenis dan penyebutannya. Ada uang sen. Ada yang disebut perak. Ada pula yang menyebut rupiah. Sisa peninggalan jaman penjajahan masih terus melekat di masyarakat Indonesia meskipun telah merdeka. Bayangkan saja, ratusan tahun berada di bawah bayangan penjajah pasti terjadi campuran budaya dan berbagai sisi kehidupan lainnya.

Awalnya saya ingin mengembalikan uang tersebut pada nenek. Tetapi nenek berpesan untuk menyimpan dan menjaganya dengan baik. Selain itu, saya pun mendapat kejutan lain dari nenek. Esok hari ketika saya baru saja pulang dari sekolah, nenek memanggil dari dalam kamarnya. Betapa terkejutnya saya melihat kepingan-kepingan logam lain yang unik. Nenek memberikan warisan yang tak ternilai harganya. Bukan hanya uang Sen yang beliau berikan. Beberapa uang rupiah pun beliau hadiahkan pada saya. Nilai uang rupiahnya yaitu satu rupiah dan dua rupiah. Nenek kembali berpesan agar saya menjaga dan menyimpannya dengan baik.
"Baik, Nek. Akan Dita simpan semua pemberian nenek yang berharga ini". Sikap hormat saya berikan pada nenek seperti sedang upacara bendera.

Sejak penemuan uang koin dan juga pemberian dari nenek, saya sering melakukan aksi pencarian harta karun di sekitar rumah. Sengaja berjongkok perlahan menyisir beberapa sisi halaman rumah. Berharap menemukan koin lain yang tentunya sangat unik dan berharga.

Saat ini sudah beberapa uang koin yang saya simpan dengan baik. Bukan hanya koin, tetapi juga beberapa uang kertas yang saat ini sudah tidak laku dipakai. Sengaja saya menyimpannya sebagai koleksi untuk anak cucu kelak. 

Posting Komentar

Terima kasih sudah main ke Catatan Tirta