√Matahari Minor, Buku Ke Empat Belas Serial Bumi (Ulasan Buku)
Header catatantirta.com

Matahari Minor, Buku Ke Empat Belas Serial Bumi (Ulasan Buku)



Bismillah,

Kembali ke serial Bumi yang masih seru dan terus berlanjut. Kali ini kembali diluncurkan buku terbaru dari serial Bumi, tepatnya buku ke empat belas. Penantian selama hampir empat bulan setelah SagaraS, akhirnya kerinduan para pembaca terobati. Sayangnya, kehadiran Matahari Minor sendiri menjadi rasa penasaran lanjutan dan keinginan yang kuat ingin segera membaca buku berikutnya.

Judul                       : Matahari Minor
Penulis                    : Tere Liye
Penerbit                  : PT. Sabak Grip Nusantara
Tahun Terbit           : 2022
ISBN                      : 978-623-99878-9-3
Jumlah Halaman    : 360 halaman
Harga                     : Rp.98.000

Sebelum membaca halaman pertama buku Matahari Minor, ada baiknya kalian menyimak spoiler di halaman belakang. Tere liye sudah memberi kisi-kisi dari buku ini  melalui halaman tersebut. Jadi siapkan diri untuk semakin gemas, penasaran, atau bahkan kalian akan berteriak sambil melempar buku. Ya, tepat di situasi paling menegangkan, kalian akan meneror penulisnya di akun sosial medianya.

Buku ini berbeda dari 13 buku sebelumnya. Jika biasanya petualangan di dunia paralel di ceritakan oleh Raib, kali ini bagian Seli yang menjadi pengantar cerita. Berhubung Seli bukan penggemar bahasa seperti Raib, maka harap  maklum jika isi dari buku ini berlompatan. Lintas waktu juga lintas Klan.

Petualangan dimulai ketika Raib dan Seli pulang dari SagaraS. Seli dan Raib menjalankan kehidupan mereka seperti biasa. Bahkan saat itu mereka sedang ujian semester. Kejanggalan muncul saat Seli mulai mengalami mimpi buruk. Mimpi yang sangat nyata sehingga Seli menyadari bahwa ia sedang bermimpi. Mimpi buruk itu datang berturut-turut hingga membuat Seli berpikir bahwa mimpi itu bukanlah sekedar mimpi. Seperti ada pesan yang disampaikan oleh seseorang dengan maksud tertentu.

Seli menceritakan mimpi buruk tersebut pada Raib hingga akhirnya mimpi itu muncul dengan sangat jelas. Mimpi itu tentang peti mati Ily. Ily, putra sulung dari Ilo dan Vey dari Klan Bulan. Mimpi itu membuat Seli dan Raib yakin bahwa dugaan Master B tentang Ily masih hidup adalah benar. Seli dan Raib pun kembali berpertualang ke dunia paralel. Mereka bertekad kuat ingin mengetahui kebenaran tentang kondidi Ily.

Langkah pertama yang mereka lakukan adalah menuju basemend rumah Ali. Mereka akan menggunakan ILY sebagai kendaraan petualangan untuk mencari kebenaran tentang Ily. Ya, ILY dan Ily, pengucapan yang sama dengan tulisan yang berbeda. ILY menggunakan huruf kapital dan merupakan benda terbang. Sedangkan Ily penulisan nama orang pada umumnya.

Setelah berhasil mengaktifkan ILY versi terbaru dengan bantuan memori ILY yang lama, Seli dan Raib segera meminta ijin pada orangtua masing-masing. Petualangan pun dimulai dengan tujuan pertama adalan Klan Bulan untuk menemui Ilo dan Vey. Cerita tentang mimpi Seli dan juga dugaan master B menjadi kekuatan Ilo dan Vey bahwa mereka yakin putranya masih hidup. Berbekal kartu berisi alamat pemakanan Ily, Seli dan Raib pun segera meluncur ke Distrik Hari Telah Petang. Distrik ini dikhususnya sebagai tempat pemakaman di Klan Bulan.

Aroma petualangan luntur saat Seli dan Raib sampai di Distrik Hari Telah Petang. Distrik tersebut sangat megah tidak seperti tempat pemakaman di Klan Bumi. Distrik Hari Telah Petang di desain seperti tempat wisata yang menyenangkan. Ada hotel/penginapan mewah, pusat perbelanjaan, dan juga taman bermain. Bahkan ada toko oleh-oleh, benar-benar seperti destinasi wisata. 

Kartu yang diberikan Ilo memberi kemudahan bagi Raib dan Seli saat mencari lokasi pemakaman Ily. Sayangnya, lokasi tersebut dijaga oleh Pasukan Bayangan sehingga Raib dan Seli harus waspada. Mereka menyelinap dan berhasil mengetahui sebuah kebenaran. Peti mati Ily kosong. Tidak ada jasad Ily di sana. Hal ini membawa bukti dan juga pertanyaan baru. Terbukti bahwa Ily kemungkinan besar masih hidup. Pertanyaannya adalah ke mana Ily pergi atau bagaimana Ily bisa keluar dari peti mati tersebut.

Saat memeriksa peti mati Ily, Seli dan Raib menemukan bagian atas dan bawah di dalam peti Ily seperti telah terbakar. Selain itu, ditemukan juga serbuk pasir di sudut peti. Petunjuk ini membingungkan sehingga Raib dan Seli memutuskan untuk mencari Batozar. Awalnya master B enggan membantu Raib dan Seli. Namun, berkat kegigihan mereka akhirnya master B bersedia membantu mencari petunjuk selanjutnya. Analisa master B menyimpulkan bahwa kemungkinan Ily dipindahkan melaui portal oleh seseorang. Jasad Ily dibawa ke Klan Matahari Minor. Sayangnya, master Batozar tidak menguasai teknik untuk membuat portal yang bisa menjadi gerbang ke Klan Matahari Minor. Master B pun menyarankan mereka untuk menemui Bibi Gill.

Pertemuan dengan Bibi Gill pun tidak semudah yang dibayangkan. Bibi Gill bukan orang yang ingin terlibat persoalan di dunia paralel. Bibi tidak bersedia membantu Raib dan Seli hingga keputusan berubah saat bertemu dengan Si Putih. Ya, Si Putih kucing kesayangan Raib. Kucing purba itu telah menunjukkan kemampuannya dan ikut serta bersama Raib dan Seli. Si Putih berhasil membujuk Bibi Gill untuk membantu mereka menemukan portal menuju Klan Matahari Minor.

Lagi-lagi, buka petualangan jika semuanya dipermudah. Seli dan Raib berhasil menemukan portal menuju Klan Matahari Minor yang ternyata berada di bangkai Kapal Ekspedisi Klan Aldebaran. Kapal tersebut berada jauh di perut Klan Matahari. Portal menuju Klan Matahari Minor tidak sulit dicari, yang menjadi sulit adalah ketika mereka sampai di sana. Dunia yang dipenuhi pasir. Sejauh mata memandang hanya dipenuhi gurun pasir. Penyisiran dilakukan berdasar insting kuat Si Putih. Dalam petualangan ini Si Putih sangat membantu dan menjadi teman perjalanan yang seru.

Insting Si Putih memang sangat peka. Raib dan Seli berhasil menemukan pemukiman penduduk. Namun sayangnya, mereka tertipu hingga harus kehilangan ILY dan semua perbekalan yang ada. Penduduk Klan Matahari Minor mengalami ancaman hutan gelap. Mereka terpaksa berpindah dari satu tempat ke tempat lain demi terus bertahan hidup. Hutan gelap menjadi ancaman penduduk ketika hari telah petang. Setiap kali dua Matahari terbenam, saat itulah kengerian muncul. Hutan gelap tumbuh dari dalam pasir yang bergejolak. Bergerak merambat dan menelan apapun yang ada di depan mereka.

Setelah kehilangan ILY, Seli dan Raib menjadi target serangan hutan gelap. Beruntung Cwaz menolong mereka.  Cwaz adalah wanita tua yang ternyata adalah anggita dari ekspedisi Klan Aldebaran. Cwaz menceritakan perjalanannya bersama pasukan lain dalam ekspedisi Klan Aldebaran 40.000 tahun lalu hingga sampai di Klan Matahari dan juga Klan Matahari Minor. Tak lupa Cwaz mengisahkan awal dari kehancuran Klan Matahari Minor yang disebabkan oleh kemunculan hutan gelap.

Ketika Seli, Raib, Si Putih dan Cwaz berada di kubah perlindungan, tiba-tiba mereka diserang oleh para Pemadat. Pemadat ini adalah penghuni Klan Matahari Minor yang menjadi pecandu serbuk narkoba dan direkrut sebagai anggota dari raja hutan gelap. Pertempuran pun tak terhindari. Raib, Seli, dan Si Putih bertarung melawan para Pemadat. Meski bukan lawan yang tangguh, tapi para Pemadat ini cukup membuat repot.

Seli, Raib, dan Si Putih berhasil menjatuhkan lawan mereka satu persatu. Namun sayang ada satu Pemadat yang lolos dan berhasil memanggil pemimpin mereka. Seseorang yang gagah dengan rambut putih, mata biru, dan jubah hitam datang mendekat. Sosoknya nampak tak asing di mata Seli dan Raib. Meski suasana saat itu remang, Seli dan Raib bisa mengenali sosok dingin di depan mereka.

Siapakah sosok misterius ini?

Berhasilkan Seli dan Raib menemukan Ily?

Segera miliki Matahari Minor.

Tapi jangan marah ketika kalian sampai di halaman terakhir ( ini pesan dari bang Tere Liye )

Posting Komentar

Terima kasih sudah main ke Catatan Tirta