√Sajian Tamu Membawa Serpihan Haru
Header catatantirta.com

Sajian Tamu Membawa Serpihan Haru

Bismillah.

Serpihan cerita kita.

Kabar itu datang hari kamis siang. Obrolan panjang di salah satu grup hobi yang diikuti olehnya. Wadah berkumpulnya para pecinta sepeda di lingkungan tempat tinggal kami. Siang itu diberitahukan bahwa akan diadakan rapat pembentukan panitia dalam rangka memperingati ulang tahun komunitas sepeda yang pertama. Rapat tersebut akan dilaksanakan pada sabtu malam alias malam minggu. Ketua komunitas sepeda meminta salah satu anggotanya menjadi tuan rumah untuk dijadikan tempat rapat. Cukup lama belum ada yang menyatakan bersedia hingga akhirnya suami mengajukan diri. Rumah sederhana kami akan menjadi tempat rapat pembentukan panitia HUT komunitas sepeda. Suami sangat antusias. Sudah lama rumah kami tidak kedatangan tamu. Ini kesempatan bagi kami untuk bersedekah.

"Silaturahim memperbanyak rejeki dan memanjangkan umur"

Suami menyampaikan pada saya untuk mempersiapkan beberapa hal. Diantaranya yaitu sajian makanan, mineral gelas, karpet, kopi, gelas kopi, dan air panas. Berhubung rapat diadakan malam hari, kami berencana menyajikan makanan hangat berupa rebkomunitasusan pisang, kacang tanah, dan ubi. Ketiganya akan dihidangkan hangat sebagai teman berbincang saat rapat. Mineral gelas tak perlu beli lagi karena kami punya persediaan di rumah. Sedangkan untuk kacang tanah, ubi, dan pisang akan kami beli di hari sabtu pagi.

Rencananya, garasi rumah kami akan menjadi tempat rapat. Kami melapisi lantai dengan karpet sebagai alas duduk. Berhubung karpet kami tidak cukup, tambahan karpet pun dibantu oleh anggota yang lain. Asas saling bantu terikat erat di  ini. Alhamdulillah.

Jumat pagi saya beberes dapur dan garasi. Ya, supaya terlihat lebih rapi jika ada tamu yang wara-wiri melintas. Kebetulan dapur bersebelahan dengan kamar mandi. Jika ada tamu yang hendak ke kamar mandi pasti melewati dapur terlebih dahulu. Tak lupa kaca-kaca jendela juga dibersihkan dan juga merapikan tata letak aneka benda di dapur agar lebih nyaman dilihat. Sebagai tuan rumah, kami ingin tamu yang datang merasa nyaman saat berada di rumah kami.

Ohya, ada moment menggemaskan saat kami mempersiapkan jamuan ini. Suami meminta saya untuk membeli piring.
Ya, piring.
Aneh kah?

Sejak kami menikah sembilan tahun lalu, belum pernah sekalipun saya membeli piring ataupun mangkok. Piring dan mangkok yang ada di rumah adalah hadiah dari membeli sabun cuci saat belum menikah. Saya merasa belum waktunya membeli piring maupun mangkok karena persediaan yang ada di rumah cukul untuk keluarga kecil kami.
Empat piring dan empat mangkok dengan anggota keluarga empat orang.
Meskipun seringkali kekurangan piring dan mangkok saat ada saudara berkunjung, saya masih merasa belum memerlukan piring baru. Kunjungan hanya sebentar dan itu masih bisa disiasati dengan wadah lain saat makan.

Nah, moment persiapan jamuan rapat ini menjadi momentum yang tepat bagi suami. Belaiu mengajak saya langsung ke toko perabotan dan diijinkan bebas memilih sesuka hati. Awalnya saya enggan sebab piring sajian bisa saja pinjam dari milik RT. Namun, melihat suami yang bersemangat memberi kebebasan akhirnya saya memutuskan untuk membeli. Selusin piring baru pun siap dibawa pulang.
Senang rasanya melihat suami memberi dukungan yang baik. 
Thanks ya, mas bro.

Tuntas mempersiapkan dapur dan piring baru, kami lega dan melakukan aktivitas harian lainnya. Tiba hari sabtu pagi, kami pergi ke toko sayuran membeli kacang tanah, pisang, dan ubi. Sayangnya, di toko sayue yang kami datangi hanya ada kacang tanah yang kami dapatkan. Sedangkan ubi dan pisang sedang tidak ada. Kami pun bepindah ke beberapa toko sayur lain, namun hanya ubi yang berhasil kami dapatkan. Sedangkan pusang untuk direbus tidak ada satupun dibawa pulang. Kaminpun memutuskan untuk membelinya di pasar.

Kebetulan sabtu siang kami akan ke tempat bermain anak-anak. Suami punya janji dengan keponakannya akan mengajak ke playground di salah satu mall. Dalam perjalanan kami mampir ke pasar dan Alhamdulillah ada pisang yang kami inginkan. Langsung saja bungkus tanpa banyak tawar menawar. Rasanya bahagia sekali karena sudah berkeliling tukang sayur di sekitar rumah. Selepas membeli pisang, kami langsung meluncur ke playground dan have fun bareng anak-anak juga keponakan.

Sekitar pukul 15:30 wib, kami sudah pulang. Langsung saja mempersiapkan segala macam untuk rapat nanti malam. Suami memasang lampu yang lebih terang. Saya pun merebus kacang tanah, ubi, dan juga pisang. Prosesnya tak sulit dan cukup cepat. Sebelum Maghrib semua hidangan sudah siap di piring masing-masing. Piring baru yang dibelikan suami dengan bahagia.

Namun, ada satu hal yang sempat menciptakan perdebatan antara saya dan suami. Nerhubung tamu yang akan datamg di rapat nanti malam adalah bapak-bapak dan diantaranya ada yang merokok, suami mencari benda yang akan diadakan asbak alias alas rokok. Tidak ada asbak di rumah kami dan suami meminta satu/dua piring kecil yang akan dijadikan asbak. Saya menolak ide suami tersebut. Saya berpikir dengan tidak adanya asbak maka para bapak akan merokok di luar. Ini lebih baik daripada merokok sambil duduk berbincang. Sebab dengan merokok di luar maka polusi asap rokok bisa diminimalisir. Saya berharap rumah kami jauh dari asap rokok. Meski tak bisa dihindari, minimal semakin jauh sumber asap maka semakin sedikit asap yang masuk ke dalam rumah. 

Suami berpikir kami menyediakan asbak untuk mengantisipasi bekas rokok yang berserakan. Selain itu dengan adanya asbak juga menghindari terbakarnya alas duduk / karpet yang mungkin terkena serpihan abu rokok yang masih panas. Kami berdebat cukup lama hingga. Suami berkata bahwa menyediakan asbak bukan berarti kita mendukung para perokok. Asbak ini adalah wujud dari menghormati tamu. Bagaimanapun, niat awal kami adalah menjamu tamu dan bersedekah dengan sebaik mungkin.
Mendengar penjelasan suami, saya pun mengalah. Akhirnya suami hanya menggunakan satu piring kecil untuk dijadikan asbak.

Selepas Isya, tamu mulai berdatangan. Saya pun mengkondisikan anak-anak selepas menyiapkan semua jamuan.
Alhamdulillah semua berjalan dengan baik.
Semua hidangan yang masih ada dibawa ke pos kamling untuk bapak-bapak yang sedang bertugas ronda. 

Hikmah dari semuanya adalah ketika kita saling mengisi, saling mengerti, dan saling mengingatkan, maka Insya Allah semua akan berjalan dengan baik.
Niat yang baik, Insya Allah mendapat jalan yang mudah.
Aamiin.


Posting Komentar

Terima kasih sudah main ke Catatan Tirta