√Keributan Tak Berujung
Header catatantirta.com

Keributan Tak Berujung

"Duh, jangan berisik donk. Kalau mau ribut jauh-jauh dari rumah saya." Gerutu Sofi yang tengah asik dengan gawainya.

Beberapa hari ini keributan memang sering terdengar. Pertengkaran itu mengusik kenyamanan Sofi. Pernah suatu ketika Sofi sedang sangat lelah dan ingin beristirahat siang. Namun, baru saja memejamkan mata, teriakan saling berbalas terdengar memecah keheningan. Kedamaian yang baru saja didapat langsung lenyap, tercabik-cabik oleh kegaduhan di luar sana. Tempat kejadian perkara tepat terjadi di depan rumah Sofi yang belum berpagar. Sofi mengambil bantal lalu membenamkan wajahnya. Berharap perang dunia segera berakhir.

Hampir tidak ada yang melerai mereka. Selain karena lokasi kejadian lebih dekat dengan rumah Sofi, semua orang juga sibuk dengan urusannya masing-masing. Ketidakpedulian itu membuat kekacauan berlangsung cukup lama. Bahkan pernah berlarut-larut hingga salah satu dari mereka terluka. Tetapi kejadian itu sepertinya tidak membuat mereka jera. Lagi dan terjadi lagi.

Sofi tidak habis pikir apa penyebab mereka berselisih. Keduanya berlagak sok kuat dan paling berkuasa. Pernah suatu waktu, Sofi mengintip dari balik jendela. Mengamati apa yang tengah mereka ributkan. Ternyata keduanya sedang tarik menarik sesuatu yang mereka inginkan. Tidak ada yang mau mengalah karena masing-masing merasa memiliki dan paling berhak atas benda tersebut. Sofi hanya menggeleng dan kembali menutup gorden jendelanya. 

"Hah, biarkan saja. Sebentar lagi juga selesai." 

Malam itu, pukul 22:00 WIB, Sofi pulang melebihi jam pulang biasanya. Kemacetan lalu lintas membuat kendaraan tidak bergerak. Hampir semua orang kesan dan stres menghadapunya, tanpa terkecuali Sofi. Tubuhnya sudah tak karuan ingin segera merebahkan diri. Pohon mangga di depan rumah Sofi sudah mulai nampak. Sepuluh langkah lagi untuk bisa menggapainya. Namun Sofi dikejutkan oleh duet maut yang sering didengarnya. Sofi sangat kesal melihat perkelahian itu. Emosinya memuncak hingga ia mengambil batu dan melempar ke arena pertarungan. Sofi tidak peduli jika lemparannya itu melukai mereka. Ia hanya ingin masuk ke rumah tanpa kebisingan. Dua kubu yang tengah bertarung sontak kaget dan membubarkan diri. Mereka lari kocar kacir mendapati lemparan batu kedua dari Sofi. 

"Dasar berisik, sisa ayam goreng aja bikin berantem terus. Pergi cari di warung Lamongan aja tuh, banyak sisa di sana." 

Sofi puas mengusir mereka. Malam pun tenang tanpa adu meong.




#OdopNovemberChallenge
#Belajar_FlashFiction





2 komentar

Terima kasih sudah main ke Catatan Tirta
  1. Masyaalalh keren ceritanya...hampir ketipu lho...kirain manusia yang berantem­čśä..terimakasih mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih juga sudah menikmati malam penuh kegaduhan,mba

      Hapus