√Merindu di Ujung Menara
Header catatantirta.com

Merindu di Ujung Menara

Sumber Foto dari : https://iyutdmk.files.wordpress.com/2012/03/mercusuar.jpg


Pak Tejo duduk termangu menggenggam gawainya. Ia baru saja mengabarkan pada istri dan Ahsan bahwa lebaran kali ini masih sama seperti tahun kemarin. Pak Tejo tidak dapat meninggalkan tempat dia mengabdi. Sebuah menara tinggi di tengah deru ombak yang selama ini menjadi sumber nafkahnya. Ia bersedih karena Ahsan, anak semata wayangnya itu tidak mau berbicara dengannya. Ahsan kecewa karena bapaknya tidak ada pada perayaan lebaran untuk yang ketiga kalinya. Pak Tejo pun menunduk untuk beberapa saat. Mengumpulkan kembali semangat kerjanya agar tetap fokus dan siaga. Ada alam yang harus terus diamati demi keselamatan banyak orang.

Laut adalah bagian dari hidup pak Tejo. Sepanjang mata memandang hanya ada air dan beberapa karang yang nampak dengan mata polosnya. Kecuali jika ia menggunakan teropong kerjanya, maka pemandanga menjadi lebih jauh dan luas. Deru ombak dan irama angin laut selalu menjadi teman setianya. Hari-hari ia lalui dengan sabar karena ini adalah pekerjaannya. Ya, pak Tejo adalah seorang penjaga menara mercusuar. Dia harus selalu siaga mengawasi luasnya laut. Menara mercusuar itu sudah menjadi teman hidupnya. Menjaga keamanan laut dan kesiapan pertolongan di atas ombak.

Sudah hampir tiga bulan pak Tejo tidak pulang ke rumahnya. Ia mendapat tugas jaga dalam waktu yang cukup lama. Menahan rindu pada istri dan anak laki-laki kesayangannya. Berharap waktu tugasnya segera berakhir dan ia segera dapat memeluk keluarga tercinta. Lebaran kali ini bertepatan dengan hari ulang tahun Ahsan yang ke tujuh. Anak tunggalnya itu tengah bersiap masuk ke Sekolah Dasar. Ahsan berharap bapaknya pulang untuk mengantarnya ke sekolah. Hari pertama masuk sekolah menjadi momen penting bagi Ahsan. Namun sayang, pak Tejo harus menelan kepahitan karena kakinya tidak mampu beranjak dari menara tempat ia berpijak. Kapal penyuplai hanya datang satu bulan sekali. Itu pun hanya merapa sejenak untuk mengirim bahan makanan, minuman, dan beberapa barang pesanan. Jika waktu tugas belum selesai, maka tidak ada petugas pengganti yang dikirim untuk menggantikan tugasnya. Pak Tejo harus bersabar karena surat tugasnya berlaku enam bulan. Itu tandanya ia harus menunggu sekitar tiga bulan lagi untuk dapat melepas rindu dan menginjak daratan.

Menara itu adalah saksi bisu kerinduan pada keluarganya. Bayang-bayang istri dan anaknya selalu nampak diantara gelombang air laut. Keluarga kecilnya menanti di ujung samudera dengan penuh harap dan cinta. Terkadang pak Tejo berdiri di puncak menara. Ia memegang teropong panjangnya dan mengarah ke ujung air. Berharap melihat sosok yang selalu dirindukannya sepanjang malam. Namun kecewa yang selalu di dapat. Tidak ada apapun yang melekat di matanya. Lagi-lagi hanya air dan air.

Dinginnya tiang-tiang penyangga menara menambah dinginnya hati pak Tejo. Membekukan kerinduannya yang telah penuh dan bergemuruh. Ditambah lagi suara rengekan Ahsan masih terngiang di telinganya. Ahsan yang sangat berharap bapaknya dapat segera pulang. Pak Tejo membisu di tangga menara, mengirim bait-bait doa pada Sang Maha Kuasa. Memohon kekuatan dan keteguhan dalam menjalankan tugasnya. Menara ini menjadi saksi kerinduannya yang mendalam. Tingginya menjulang seolah ingin meraih langit yang begitu luas. Seluas samudera biru yang menjadi teman setianya hingga akhir masa kontraknya tiba.

Kesabarannya akan segera mendapat hasil yang sempurna. Hadiah atas keteguhan hatinya menjalankan kewajiban atas rezeki yang diterima olehnya. Pak Tejo selalu memegang tanggung jawab hingga keberkahan selalu menyelimuti keluarganya. Menciptakan bahagia sepanjang masa.


#30DWCjilid13
#Day24

#temaMenara

Posting Komentar

Terima kasih sudah main ke Catatan Tirta