√Membantu Mbah Uti di Dapur
Header catatantirta.com

Membantu Mbah Uti di Dapur

Aktifitas Sederhana Melatih Kemampuan Diri

Kabut tipis masih menyelimuti pagi. Menciptakan hawa sejuk dan segar hingga dapat dihirup dalam-dalam. Rasanya paru-paru berseri-seri mendapat energi positif dari udara bersih tanpa polusi. Dedaunan masih basah oleh embun yang belum memuai. Matahari masih malu-malu menampakkan gagahnya hingga bersembunyi di balik rimbunnya pepohonan. Suasana pagi yang sejuk dan segar ini membuat kami selalu rindu untuk pulang. Kampung halaman di kaki gunung Slamet yang masih minim pencemaran hingga airnya pun begitu jernih dan menyegarkan.

Mbah Uti sedang bersiap di dapur. Mengeluarkan belanjaan yang baru saja dibawanya dari pasar. Kacang panjang, sawi hijau, kubis, kecambah, dan kecipir dipisahkan untuk membuat urab. Sayuran-sayuran tersebut direbus sebentar agar layu atau setengah matang. Kemudian dicampur dengan bumbu dan kelapa parut dengan tambahan sedikit terasi. Hmm, enak dan sehat.

Nala mendekati mbah Uti. Memegang sayuran-sayuran yang baru saja dikeluarkan.

"Mbah Uti, Nala mau bantu masak-masak, boleh?" Suaranya merajuk agar mendapat persetujuan.
"Iya, boleh. Nala bantu potong sayuran, ya." Mbah Uti menjawab penuh senyum.

Sebuah baskom besar disiapkan untuk wadah sayuran. Mbah Uti memberikan kacang panjang. Mengajari Nala cara memotong kacang pangjang dengan tangan. Nala sangat bersemangat. Jemari kecilnya berusaha mematahkan kacang panjang menjadi beberapa bagian. Ia terus melakukannya hingga kacang panjang habis. Berlanjut pada sebongkah kubis. Mengupas dan mematahkan lembarannya menjadi lebih kecil. Lalu sawi dan kecipir yang dipotong menjadi beberapa bagian. 

Setelah semua selesai dipotong lebih kecil, mbah Uti membawanya untuk dibersihkan. Nala pun ingin terus berperan. Ia membantu mbah Uti mencuci sayuran tersebut pada sebuah keran yang airnya cukup dingin.

"Waah, dingin. Sayurannya kedinginan, Mbah."

Mbah Uti kembali tersenyum. Nampaknya beliau bingung mencari penjelasan yang tepat untuk kasus tersebut. Saya pun mendekat dan ikut mencuci sayur-sayuran.

"Nak, sayurannya akan jadi lebih sehat dan segar karena dicuci dengan air bersih dan dingin. Nanti ketika Nala makan sayuran ini, nilai gizinya banyak hingga Nala bisa sehat dan gemuk." Saya memberi sedikit penjelasan dan sugesti positif.

Nala termasuk tipe anak yang "makan untuk hidup". Jadi porsi makannya tidak terlalu banyak. Bahkan lebih sering GTM ( gerakan tutup mulut ) daripada makan dengan lahap. Sengaja saya memberitahukan tentang manfaat sayuran agar Nala mau memakannya. Selama ini Nala hanya mau beberapa jenis sayuran seperti wortel, brokoli, bayam, jagung, dan kubis. Semuanya pun tergantung mood makannya. Ketika nafsu makannya sedang turun, maka sayuran apapun tidak akan masuk ke dalam mulutnya. Dimasak dalam bentuk apapun tidak akan menambah selera makannya. Ini masih menjadi PR bagi saya.

Setelah selesai mencuci sayuran, mbah Uti lanjut mempersiapkan bumbu masakan. Bawang merah, bawang putih, cabai, dan bermacam rempah-rempah mulai disiapkan. Nala memilih untuk mengupas bawang putih. Hal ini memang sudah biasa ia lalukan ketika membantu saya di dapur. Selain mengupas bawang putih, Nala juga senang meracik bumbu dan menghaluskannya. Kemiri, ketumbar, dan lada, sudah dikenalnya dengan baik. Nala teriasa mempersiapkannya untuk dihaluskan secara manual. Kalau saya lebih sering menggunakan ulekan batu daripada diblender.

Saya seringkali membiarkan Nala mencoba hal-hal baru yang diinginkannya. Selama hal tersebut tidak berbahaya, maka saya memberinya kesempatan untuk berperan aktif. Merasakan dan melakukan bermacam aktifitas yang jarang atau belum pernah Nala lakukan. Saya menyisipkan edukasi dan stimulus pada setiap kegiatan yang dilakukan Nala. Baik secara langsung maupun tidak, aktifitas sederhana tentu memiliki nilai bagi seorang anak. 

Seperti aktifitas memotong sayuran. Merangsang dan melatih saraf dan motorik di jari dan tangan Nala. Melatih kekuatan jarinya untuk mematahkan kacang panjang menjadi beberapa bagian. Mengupas kubis besar juga merangsang saraf perasa di jari-jari tangan Nala. Memotongnya menjadi lebih kecil juga bermanfaat melatih kemampuan membagi dan mengenal ukuran. Antara besar dan kecil, maka akan terlihat perbedaannya.

Keseruan sederhana di dapur menjadi aktifitas bermanfaat. Memupuk sikap peduli dan senang membantu pada diri Nala. Semoga kelak ia menjadi pribadi yang gemar menolong, senang meringankan beban orang lain, dan berjiwa peduli terhadap sesama.



#30DWCjilid13
#Day24
#Odopfor99days


Posting Komentar

Terima kasih sudah main ke Catatan Tirta