√Enyahlah dari Memoriku
Header catatantirta.com

Enyahlah dari Memoriku

Kini Tiada Lagi



Jejak dua pasang kaki membekas sepanjang pantai. Kala sore menjelang dan penguasa siang bersiap untuk pulang. Semburatnya menyala jingga berselimut kelabunya mega. Namun genggaman erat itu menuntunku menyusuri hangatnya pasir hitam. Entah kekuatan apa yang mendorongku untuk terus berada di sebelah bahu kananmu. Pertemuan dua telapak tangan hingga ke bahu memberi kenyamanan yang begitu dalam. Ditambah pesonamu yang membuatku hilang kesadaran.

Langkah kita terhenti pada tumpukan bongkahan batu yang sengaja disusun rapi. Kuat dan kokoh menjadi pelindung tepian pantai agar tidak terkikis amukan ombak. Kita duduk bersebalahan, mengantar sang raja siang kembali ke peraduannya. Indah, sungguh indah lukisan Sang Maha Pencipta dunia.

Tanpa sadar, bahumu kini menjadi sandaran kepalaku. Seperti hatiku yang perlahan kuserahkan sepenuhnya untukmu. Mempercayakannya padamu agar menjaganya selalu, karena hati ini hanya satu dan kini telah menjadi milikmu.

Berapapun aku melihat kesalahanmu, selalu terhapus oleh curahan kehangatan ragamu. Aku terhipnotis setiap mendengar untaian kata yang terlontar dari ranumnya bibirmu. Bahkan ketika dengan jelas menjadi saksi kekerliruanmu, aku tak mampu untuk menghukummu. Bagiku, kamu terlalu sempurna untuk sebuah kesalahan.

Pandanganku buram hingga keburukanmu nampak bias dan pudar. Bersama dengan rayuan dan pengakuan, aku selalu mengakhirinya dengan senyuman. Kesempatan itu terus bertebaran dalam setiap penyimpangan. Entah, aku pun tak tahu mengapa kamu tak pernah pantas untuk disalahkan.

Semua kisah itu terus berputar di memoriku. Menggerogoti sebagian jiwaku hingga lupa akan semua sisi dunia. Bahkan aku hampir lupa dengan jati diriku. Semakin keras aku mencoba, maka bayanganmu semakin jelas di pelupuk mataku.

Aku mohon padamu, pergilah jauh dan jangan pernah kembali. Cukup sudah tangan ini terbuka untukmu. Kini tiada lagi peluk hangat karena kebodohanku. Kesalahan fatal itu menjadi titik balik dimana aku akan pergi. Membuang semua rekan jejak antara aku dan dirimu. Membakarnya hingga menjadi abu dan tertiup sang bayu. Musnah, hilang tanpa bekas.

Aku sedang berusaha menata kembali serpihan jiwa dan ragaku. Mengumpulkan sisa hidupku tanpa bayanganmu.
Sulit.
Ini memang teramat sulit. Namun aku akan berusaha bangkit dengan kakiku sendiri. Persembunyian ini menjadi bagian dari caraku menghapus butiran kisah masa lalu. Bukan untuk lari dari kenyataan, tetapi demi membersihkan otakku dari pengaruh auramu. Jika ada alat tercanggih penghapus memori, mungkin akulah orang pertama yang mengajukan diri. Berharap masa itu tak pernah terbuka lagi. Lebur bersama rasa yang telah lama bersemayam.

Pergilah.
Aku tak akan pernah mengingatmu lagi. Bahkan ketika maut datang menghampirimu, aku tidak akan sudi melihatmu untuk yang terakhir kali. Malaikat maut memang sangat pantas menjemputmu. Aku menyetujuinya jika itu segera terjadi. Tidak akan ada air mata untuk mengantar kepergianmu. Tidak akan ada raungan tangis di atas gundukan tanah yang menimbun ragamu. Tawa bahagialah yang akan tetuang saat aku benar-benar mendengar kabar itu. Bunga-bunga di atas pusaramu menjadi tanda kebebasan atas kebodohan jiwaku.

Indah, kabar itu mungkin akan menjadi kabar terindah yang terdengar setelah aku terbebas dari jerat busukmu. Aku akan mudah menghapusmu dalam ingatanku. Terkubur bersama seonggok jasad penuh dosa.

Aku.
Aku telah melepas semua ikatan yang pernah ada antara kita. Kini aku berjuang agar segera bebas dan meninggalkan semua itu. Enyahlah dari hidupku. Biarkan lembaran baru terbuka dan membuat masa depanku lebih baik tanpa hadirmu.

Kamu, enyahlah dari memoriku.




#30DWCjilid13
#Day16
#Odopfor99days


Posting Komentar

Terima kasih sudah main ke Catatan Tirta