√Sepasang Anting Pilihan Ayah
Header catatantirta.com

Sepasang Anting Pilihan Ayah


Manakah Anting Yang Tepat Untuk Bayi Baru Lahir ?

Hari kedua pasca kelahiran Nala, pihak rumah sakit menawarkan untuk melakukan tindakan tindik telinga. Awalnya kami kira tindik telinga itu dilakukan ketika bayi berusia satu minggu. Nyatanya pihak rumah sakit memberi pilihan lebih cepat akan lebih baik supaya bayi tidak terlalu merasakan sakitnya. Lagi pula proses tindik telinga di rumah sakit sudah cukup canggihm yaitu menggunakan alat mirip staples. Prosesnya singkat dan tentunya lebih aman sehingga tidak ada kekhawatiran infeksi dan sebagaianya.
Mendengar informasi tentang tindik telinga, saya dan suami memutuskan untuk mengambil tindakan tersebut. Berhubung belum menyiapkan anting, suami pun minta izin meninggalkan saya sementara untuk membelinya. Suami meluncur ke sebuah pusat perbelanjaan dan menuju ke salah satu toko perhiasan.
" Mbak, saya mau cari anting untuk bayi yang baru lahir." Ucap suami pada salah seorang pelayan toko perhiasan.
Si mbak mengajukan dua anting dengan bentuk yang berbeda sambil menjelaskan harga serta berat dari anting tersebut.  Satu pasang anting berbentk bulat sempurna dengan cabang di satu sisinya. Sepasang anting lain bentuknya hampir bulat dan lebih sederhana. Keduanya memiliki cara pasang yang sama, namun beratnya berbeda. Suami berpikir sejenak. Menimbang anting mana yang cocok untuk bayi mungilnya.
Sudah menjadi sifat dasar seorang laki-laki itu menyukai hal yang simple, praktis, dan nyaman. Begitu pun suami saya, dia menimbang ketga faktor tersebut. Tujuannya hanya ingin agar bayi cantiknya nyaman dengan apa yang dikenakannya. Akhirnya ia meutuskan untuk membeli anting berbentuk lingkaran tidak sempurna. Praktis, sederhana, dan terlihat nyaman.
Dengan semangat suami menunjukkan sepasang anting hasil perburuannya ke toko perhiasanan. Saya melihat cintanya yang begitu besar pada bayi kami. Saya mengucapkan terima kasih padanya karena sudah memilih sepasang anting yang tepat. Dia pun berjalan menuju ruang bayi dan menyerahkan anting tersebut pada suster.
Ketika akan dilakukan tindik telinga, suster melarang saya untuk menemani Nala. Katanya itu sudah prosedur dari rumah sakit. Naluri saya sebagai seorang ibu bergejolak khawatir. Bagaimana bisa seorang bayi yang akan meraskan sakit tetapi tidak boleh didampingi oleh ibunya? Saya mencoba bernegosiasi dengan suster. Ada sedikit nada memaksa karena saya khawatir pada Nala. Namun suster tetap pada keputusannya yang berdalih atas prosedur rumah sakit. Suster meyakinkan saya bahwa setelah proses tindik telinga, Nala akan langsung diantar ke ruangan saya.
Pukul 14:00 WIB, saya menunggu dengan cemas. Berharap semoga Nala tidak terlalu merasakan sakit ketika ditindik. Sekitar 30 menit kemudian, sister datang membawa Nala. Sangat jelas terlihat bahwa Nala baru saja menagis. Sesenggukannya masih bisa terdengar dan pipinya memerah. Saya segera memeluknya hangat. Memberi kenyamanan dan ketenangan agar sisa tangis Nala segera mereda. Asupan ASI menjadi salah satu bentuk kenyamanan yang saya berikan karena pasti dia haus setelah beberapa saat menangis.
Benar saja, Nala terlelap tanpa harus menunggu lama. Rona merah di pipinya mulai tersamarkan. Nafasnya pun menjadi lebih teratur. Saya mengamati sepasang anting yang telah melekat di telinganya. Meski telinganya masih agak merah, tetapi saya tidak melihat ada bekas luka di sana. Ini menandakan proses tindik telinga berjalan lancar dan aman. Nala nampak makin cantik dengan anting pilihan dari ayahnya. Anting yang dibeli atas dasar cinta dan kasih sayang seorang ayah pada anak perempuannya.
Terima kasih suamiku karena telah mengambil pilihan yang tepat. Kelak Nala akan bersyukur dan bahagia atas anting spesial yang dipakainya.


#30DWCjilid13
#Day13
#Odopfor99days

Posting Komentar

Terima kasih sudah main ke Catatan Tirta