√Sentuhan Pertama Simbah Putri
Header catatantirta.com

Sentuhan Pertama Simbah Putri


Kenyaman Datangnya dari Sentuhan Seorang Ibu



Satu minggu setelah kelahiran Nala, simbah putrinya datang berkunjung. Simbah putri ini adalah ibu dari saya. Kami sepakat memanggilnya dengan sebutan simbah putri. Kedatangan beliau tentu membuat saya bahagia. Saya bisa beristirahat lebih lama karena ada ibu yang menemani dan bergantian menjaga Nala. Minimal ada tambahan waktu untuk tidur dan membuat rumah menjadi lebih bersih dan rapi. Bagian bersih-bersih tentu tetap pada saya, sedangkan ibu menemani Nala bermain.

Bisa menyentuh dan menimang cucunya, simbah putri nampak semringah. Berulang kali beliau mencium cucu perempuannya itu. Selain wangi khas bayi, pipi Nala yang tembam memang membuat gemas. Mencium pipinya berkali-kali pun tidak akan bosan. Ditambah lagi gelengan kepala Nala setiap kali dicium. Sungguh lucu dan menggemaskan.

Simbah putri mengambil alih tugas memandikan Nala. Beliau bersemangat mennyiramkan air hangat ke badan Nala. Dengan lembut dan hati-hati, simbah membersihkan badan Nala dengan sabun khusus bayi. Kemudian membilasnya perlahan hingga busanya hilang. Nala pun menjadi bersih, wangi, dan segar. 

Setelah memandikan Nala, simbah putri memijat dan membalurnya dengan minyak telon. Pijatan lembut dan perlahan ini bertujuan merangsang syaraf-syaraf halus dan membuat Nala menjadi lebih nyaman. Penggunaan minyak telon berfungsi agar tubuh Nala tetap hangat. Biasanya setelah mandi, Nala akan menyusu kemudian tertidur pulas. Nala kecil adalah tipe bayi yang jauh dari kata rewel. Jarang sekali terdengar tangisan melengking dari bibirnya. Hanya sesekali menangis karena haus, buang air kecil dan besar, atau ketika ingin diangkat dari tempat tidur.

Saat Nala tidur, saya dan ibu biasanya berbincang santai. Beliau menceritakan masa ketika sedang mengandung saya. Kehamilan yang berjalan baik dan proses melahirkan dengan lancar. Hampir sama seperti saat saya mengandung dan melahirkan Nala. Ketika Melihat Nala, beliau pun membandingkan dengan saya ketika bayi. Menurut beliau, wajah dan perilaku Nala sangat mirip dengan saya kala masih seusia dia. Bayi yang sehat dengan perangai tenang sangat membuat ibu tidak terlalu repot.

Beberapa kali Nala terkejut dalam tidurnya. Simbah putri dengan sabar dan telaten mengelus dada hingga membuat Nala kembali terlelap. Sesekali simbah putri menepuk-nepuk lembut punggung Nala untung memberi kenyamanan dan membuat Nala kembali tidur. Pandangannya penuh cinta yang tulus layaknya ibu kepada anaknya. Saya memerhatikan penuh haru. Mungkin seperti itu kasih sayang yang beliau berikan ketika saya masih bayi.  

Setiap sentuhan ibu memberi kenyamanan pada buah hatinya. Begitu pula sentuhan lembut seorang nenek kepada cucunya. Cintanya bisa saja melebihi cinta yang beliau berikan pada anaknya dahulu. Kasihnya mungkin saja lebih besar dari kasih yang pernah tercurah pada anaknya. Sayangnya nampak berlipat melebihi rasa sayang pada anaknya. Jelas saja banyak yang berkata bahwa orang tua yang telah menjadi nenek dan kakek bersikap lebih pada cucunya. Limpahan perhatian dan sayangnya sangat besar sehingga seringkali berlebihan.

Lalu bagaimana menyikapi hal tersebut?

Sebagai anak dan orang tua yang bijak. Beri kesempatan pada ibu dan bapak kita untuk mencintai cucu-cucunya. Biarkan mereka meluapkan kasih sayangnya yang seringkali membuat mata mereka berbinar. Gelak tawa dan senyum ceria cucu-cucu selalu memberi kebahagiaan di usia senja mereka. Jika pun ada perilaku yang berlebihan, maka gunakan bahasa yang lembut untuk menyampaikan ketidaksesuaian tersebut. Beri penjelasan sederhana agar mereka mengerti dan menerima apa yang kita sampaikan. Hindari perdebatan karena bisa memicu ketegangan dan sakit hati. Tentu tidak baik jika membuat orang tua kecewa. Maka bersikap lemah lembut dan merendahkan diri di hadapan orang tua akan sangat mendukung komunikasi yang baik.




#30DWCjilid13
#Day9
#Odopfor99days

Posting Komentar

Terima kasih sudah main ke Catatan Tirta