√Meninggalkanmu Begitu Berat, Nak
Header catatantirta.com

Meninggalkanmu Begitu Berat, Nak


Penyemangat hidup

Hari demi hari berlalu penuh suka cita karena ada bintang kecil di keluarga kami. Tanpa terasa sudah waktunya kembali mengais rezeki di ranah publik. Cuti selama 45 hari setelah melahirkan sudah harus berakhir. Beruntung kami sudah mendapat pendamping untuk Nala.  Dia adalah teman satu atap ketika kami masih belum menikah. Kebetulan sekarang kami tinggal dalam satu komplek perumahan hanya berbeda blok saja. Jadilah saya mempercayakan Nala untuk dirawat olehnya selama saya bekerja.

Awal meninggalkan Nala untuk pergi bekerja tentu saja sangat berat. Air mata tidak mampu dibendung lagi, bahkan ketika memindahkan Nala dari tangan ini. Separuh jiwa seakan lepas hingga membuat raga lemah. Namun, saya berusaha tegar karena antara ibu dan anak ada ikatan batin yang lekat. Jika saya sendiri larut dalam kesedihan, maka bisa berdampak pada Nala. Saya tidak mau Nala rewel bersama orang lain untuk pertama kalinya. Saya berusaha kuat dan berpikir positif. Saya yakinkan diri bahwa Nala berada di tangan orang yang tepat.

Jam dinding di ruang kerja terasa begitu lambat berputar. Meski banyak rekan kerja yang mengucapkan selamat dan turut bahagia atas kehadiran Nala, tetapi saya tidak bisa menyatu dalam kebahagiaan itu. Saya ingin segera pulang untuk bertemu dnegan bidadari kecil yang menggemaskan. Rindu ini melebihi kerinduan pada seorang kekasih hati. Begitu pun dengan suami yang tidak berhenti memikirikan putri kecilnya. Kami ingin segera meninggalkan tempat kerja demi bertemu dengan malaikat cantik kesayangan kami.

Matahari sudah condong ke barat ketika saya menjemput Nala. Rasanya rindu ini terbang bersama dekapan hangat tubuhnya yang berada di dada saya. Bayi berusia satu bulan itu hanya menggeliat dan sesekali mengedipkan mata sipitnya. Sungguh kamu anak yang pintar, Nak. Anteng dan menggemaskan, itu yang disampaikan oleh bude dan pakde. Sungguh saya bersyukur mereka menerima dan menyayangimu seperti anak sendiri.

Hari-hari berikutnya kita semakin kuat dan tegar ketika terpisah ruang. Kamu seorang bayi perempuan yang hebat karena hampir tidak pernah menangis dan menciptakan ceria di keluarga penjagamu. Pertumbuhanmu sangat baik sehingga ibumu ini lebih tenang ketika meninggalkanmu untuk pergi mengasi rezeki.


Selalu ada senyum dan rindu ketika kita bertemu setelah hampir sepuluh jam terpisah. Aku selalu berusaha merajut ikatan batin diantara kita agar tetap tumbuh. Meskipun kita terpisah sementara saat matahari masih menggeliat malas hingga telah condong ke barat. Namun cinta dan kasihku akan sepenuhnya tercurah ketika kita bersama. Malam hari sebelum memejamkan mata, aku selalu bermain bersama denganmu. Mengajakmu berbincang santai meski belum ada kata yang keluar dari bibir mungilmu.

Hai, Nak. Kelak akan tiba masa dimana aku akan sepenuhnya ada di dekatmu. Mulai dari matamu terjaga di pagi hari hingga malam datang kembali. Menemani tumbuh kembangmu setiap waktu dan mendidikmu dengan tanganku sendiri. Akan tiba waktu kebersamaan kita memainkan bermacam mainan. Melakukan berbagai aktifitas yang menyenangkan hingga kamu tidak lagi merasa ditinggalkan. Aku akan seutuhnya bersamamu. Menyiapkan makananmu, menyuapimu, memandikan, berpakaian, dan semua aktifitas lain yang akan menjadi lebih menyenangkan bersama denganmu.

Bersabarlah, Nak. Semoga aku dapat segera menyelesaikan tugasku di ranah publik. Do'akan ya, Nak. Agar kaki ini siap melangkah meninggalkan dunia luar dan fokus terhadap kehidupan di dalam keluarga.
 

Terima kasih, Nak. Peluk dan cium selalu melimpah untukmu.




#30DWCjilid13
#Day4
#Odopfor99days

Posting Komentar

Terima kasih sudah main ke Catatan Tirta