√Kumpulan Tantangan Puisi
Header catatantirta.com

Kumpulan Tantangan Puisi



Tanpa jawaban

Parasnya nampak layu
Termangu di tepi kapal berlabuh
Angannya melayang jauh
Terbang menembus batas waktu
     Dingin udara tak mampu menggoyahkan tubuhnya
     Bersandar menatap luasnya samudera
     Apa kabar dia yang jauh disana
     Beribu waktu tak juga bersua
           Adakah sang bayu membawa berita
           Tentang dia yang entah di mana
           Serpihan kisah itu semakin sirna
           Lelah menanti tanpa cerita
                  Keriput muncul perlahan dan tak terduga
                  Lambaian tangannya pun mulai melemah
                  Tak kunjung berbalas, hanya duka dan sia-sia
                  Lara itu menusuk jiwa
                  Raganya pun tak punya kuasa
                  Matanya semakin meredup
                  Tertutup sempurna di ujung senja

Meski Tanpamu

Hadirlah sayang
Ijinkanku meletakkan kepala ini
Merbahkan diri di pangkuanmu
Seperti kala itu
Sentuhan lembut menyapa rambutku
Perlahan dan berulang
Hingga lelap datang tanpa diundang
Membawaku ke alam bawah sadar
Betapa indah di sana
Bersamamu bergandengan tangan
Erat,
Semakin kuat dan rapat
Seperti ikatan yang tak mungkin lagi terlepas
Hiasan bahagia berhamburan tanpa syarat
Masih jelas mimpi itu melekat
Hingga ku tersadar
Semua telah berubah
Benci,
Aku benci tenggelam dalam masa itu
Namun tak dipungkiri
Bahwa semua teramat manis untuk dibuang
Kalap,
Kadang kekalapan menghampiri
Membuatku berteriak mencari rimbamu
Dimana,
Aku tak lagi melihat bayangmu
Sesal,
Tiada arti lagi rasa itu datang
Onggokan sepi menyisakan rasa sakit teramat dalam
Meski luka menembus rasa
Namun hanya itu yang masih tertanam di jiwa
Biarkanlah,
Hanya aku yang akan bertahan di sini
Biarkan alam menjadi saksi
Betapa tegar tanpamu kini
 
Menembus Ruang dan Waktu

Terbentang samudera biru
Memisahkan jarak dan waktu
Aku menikmati birunya langit
Kamu terlelap dalam buai mimpi
Saat kamu memulai hari
Ceria menyambut mentari
Aku baru saja menutup buku
Bersiap untuk mematikan lampu
Karena lelahku telah tiba
Mengetuk raga untuk segera bersandar
Memeluk guling penuh kehangatan
Wajahmu samar-samar di layar gawai
Berulang mata ini mengerjap
Namun tak mampu bertahan
Hanya suara sebagai pengobat rasa
Menguap isi hati dan jiwa
Dunia memisahkan kita
Terpisah di ujung pangkal bumi
Ketika gelap datang padaku
Raja siang baru saja bangun menyapamu
Meski begitu
Hati ini tetap satu untukmu
Kelak
Saat kita bersama memandang langit
Ingatlah bahwa kita pernah menembus transformasi jiwa
Melintasi batas ruang waktu
Menyatukan raga untuk berpijak di tanah yang sama


Rasa yang Hilang

Sebuah tangan melingkar di bahumu
Menciptakan sebuah kenyamanan
Hingga tubuhmu pasrah bersandar
Kemudian terlelap dalam damai
Pemandangan itu membuat sesak
Seperti ada letupan-letupan air mendidih di dalam dada
Ingin rasanya berlari ke arahmu
Menarik raga yang seharusnya milikku
Namun kaki ini seperti kelu
Tak mampu bergerak maju
Hanya air mata mewakili lara
Runtuh sudah bangunan asmara
Tiada lagi rasa indah
Mungkin nanti akan kembali
Ketika hati terbentuk lagi
Mencari tambatan sejati
Berbagi setia sampai mati


Biar Aku Saja

Benih ini tumbuh tak terduga
Menembus raga tanpa sapa
Menjulang menantang mentari
Membuat jiwa berseri-seri
Setiap kali mata berkeliaran
Pandangan jatuh tepat padanya
Melumat pesona nan indah
Berbalut ciptaan yang sempurna
Wahai pujangga
Goresan penamu tak berguna
Gejolak ini tak terkendali
Berderu dan terus berlari
Mengejar asa pengisi hati
Merangkul bahagia sehidup semati
Lihat
Atap bumi yang luas dan biru
Pijakan hijau terbentang
Pepohonan rimbun bersatu
Sungai mengalir syahdu
Semua tak jua mewakili sempurnamu
Rasaku hanya untukmu
Rasa setia padamu
Hingga hilang ruang dan waktu
Jika sesak menusuk kalbu
Bersandarlah pada bahuku
Lepas semua beban beratmu
Biar lenganku menjadi penyanggamu

Tiada akhir

Senyummu hadirkan pesona
Menembus bersarangnya rasa
Melekat erat hingga menyatu
Tak mampu lagi terpisah
Memandangmu
Meski selalu dan selalu
Tak akan pernah bosan
Mata ini menatap indahmu
Teringat masa itu
Kau menyapa lembut
Indahnya saat itu
Hingga anganku mengangkasa
Jauh tak berujung
Setiap kali aku terjatuh
Dalam peluk hangat ragamu
Menciptakan kedamaian kalbu
Menetaplah terus di hatiku
Kisah ini tak akan betakhir
Rasa ini akan terur mengalir
Meski pahit dan getir
Semua akan tetap terukir
Indah
Syahdu
Suka
Cita
Tiada kata yang mampu mewakili gelora jiwaku
Hanya sinar ini aka terus ada untumu

Gejolak rasa

Hitung berapa gulungan ombak di laut
Bergerak dan pecah di tepi pantai
Mencipta buih yang bertebaran
Menghilang diantara pasir
Terladang ombak berpapasan karang
Menabrak pun tak terelakkan
Tubuhnya hancur mengurai
Hilang diluasnya samudera
Namun
Ombak tak pernah putus asa
Ia terus berlari mencapai pantai
Meski berakhir menjadi buih
Setidaknya ia telah berjuang
Begitupun diriku
Mempertahankan rasa ini
Mengikatnya erat di relung hati
Tak akan lepas dan berhenti
Aku menjaganya lebih
Lebih dari kemampuanku
Seperti ulat berhibernasi
Terus bersabar demi menjadi kupu-kupu
Rasaku hanya untukmu
Tak peduli aral melintang
Hanya kamu dalam nafasku
Hanya kamu dalam hidupku


Posting Komentar

Terima kasih sudah main ke Catatan Tirta