√Kuserahkan Semua Milikku
Header catatantirta.com

Kuserahkan Semua Milikku

Ketika kokok ayam jantan terdengar, itu pertanda hari baru telah dimulai. Setiap orang punya cara yang berbeda untuk mengawali hari mereka. Berbagai agenda telah direncanakan, mulai dari pagi hingga petang. Akupun tidak jauh berbeda dengan kebanyakan orang. Bahkan aku memulai hari ketika yang lain masih terlelap. Aku memang tidak sendiri, banyak yang seperti diriku. Kami bertemu, bersinggungan, bercakap dan sesekali bersenda gurau. Terkadang kami juga saling berargument. Memperdebatkan keinginan masing - masing. Diantara kami tidak ada yang mau merugi. Acara negosiasi kami berlangsung cepat dan praktis, tidak seperti debatnya para pejabat di gedung pemerintahan. Hanya dua atau tiga kali silang pendapat, maka kesepakatan berakhir kepuasan.
Hari ini aku sangat bersemangat. Berangkat lebih awal ke wilayah perkumpulan. Beberapa wanita muda mengandalkanku untuk sebuah misi. Akupun bergegas menyusuri lorong - lorong sempit, becek dan agak licin sisa hujan semalam. Diiringi penerangan yang ala kadarnya, aku terus berjalan. Semua sudah menjadi lumrah bagi siapapun yang bergabung di sana. Satu persatu permintaan para penggemar setiaku mulai kudapat. Betapa girang hatiku karena hari ini adalah hari keberuntunganku. Semua kudapat tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam. Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan targetku. Akupun bergegas, mengemas semua dengan rapi dan cantik.
Deru motor tua mengiringi perjalananku. Angin pagi ini terasa lebih sejuk dari biasanya. Terlihat beberapa wanita tengah berbaris rapi. Mereka pasti sedang menunggu kedatanganku. Ah, mereka memang terlalu mengidolakan diriku. Aku menatap mereka dengan binar penuh bahagia. Rasanya kantongku akan kembali penuh terisi. Mata yang sempat berkatong panda ini mendadak cerah. Gairah menyapa jiwaku. Sebuah latar cukup luas menantiku. Kami memang selalu bertemu di sana. Tidak perlu kirim pesan singkat, whatsapp, email apalagi video call. Tanpa itu semua mereka tetap menjadi penggemar setiaku setiap fajar menggeliat. Cukup dengan bertatap muka, kemudian membuat sebuah janji. Tidak perlu buku dan pulpen, karena aku mencatatnya langsung di otakku.  Aku akan memenuhi semua permintaan mereka. Tidak hanya satu atau dua wanita, terkadang hampir sepuluh wanita mengikat janji denganku.
Aku bahagia menjadi orang kepercayaan mereka. Akupun memberi mereka pelayanan yang memuaskan. Dengan begitu mereka akan tetap setia padaku. Pagi yang indah, secerah hatiku saat ini. Perlahan kuhentikan motor kesayanganku. Mereka sudah bersiap melangkahkan kaki - kaki indah mereka, mendekat, menghampiriku. Kuserahkan semua yang kumiliki. Biarkan mereka puas menjamah apapun sesuai keinginan mereka. Aku bebaskan mereka untuk berbuat seseuka hati. Akupun telah bersiap melayani mereka. Menjawab setiap pertanyaan yang terlontar. Mempertanggungjawabkan janji yang telah kuberikan pada mereka.
" Bang, daging sama iga yang saya pesan kemarin, dibawain ga ?"
" Bang, cumi pesenan saya, gimana? ada ga ?"
" Bang, kentang sekilo berapa ?"



Posting Komentar

Terima kasih sudah main ke Catatan Tirta