√Apel Merah, Si Buah Cinta
Header catatantirta.com

Apel Merah, Si Buah Cinta

Bagian Dua

"Rani, bagaimana skripsimu? Aku tidak melihat buku lain kecuali novel - novel romantis di mejamu ini?" Seza mengusik kesenanganku.
"Tenang aja, Za. Aku sudah mulai menyusun kata pengantar," Mataku tidak beranjak dari novel yang kubaca.
"Kata pengantar ? Aduh, yang benar aja donk, Ran. Apa kamu tidak ingin lulus tepat waktu? Atau kamu mau bikin skripsi soal kisah - kisah romantis?" Gerutu Seza.
"Wah, boleh juga itu Za. Usul yang sangat brilian," Timpalku padanya.
"Paramita Maharani!" Seza mulai kesal dengan jawabanku yang semena - mena. Dicubitnya kedua pipiku hingga memerah. Akupun menyerah, meletakkan novel yang belum selesai.
"Iya, Seza Rahmadina. Udah donk jangan manyun gitu. Aku pastikan skripsiku selesai tepat waktu dan kita akan memakai toga di hari yang sama." Kupeluk teman sekamar yang sudah menjadi sahabatku itu.

Seza,  tingginya sekitar 160 cm, rambut lurusnya sangat terawat, dua lesung pipi menghiasi wajahnya. Dia selalu menjadi teman yang baik, tempat berbagi suka dan duka. Aku mengenalnya awal semester tiga ketika pindah dari tempat kos yang lama. Dimana ada Seza,di situ ada Rani. Kenapa ? Karena kami satu jurusan dan kamar kos yang sama. Kami juga sempat mendapat predikat "kembar", karena seringnya kami memakai pakaian dan asesoris yang sama. Ya, begitulah kami, berbeda tetapi sama.

 Sore itu, kami berjalan menjauhi kampus menuju rumah kos. Ada setitik gerimis menghiasi awan di langit cerah. Tiba - tiba aku melihat punggung itu, punggung yang dua kali meninggalkanku. Meski hanya dua kali, tetapi entah mengapa aku masih mengenalinya. Ah,  dia si apel merah.
"Ran, kamu kenal dia?" Dagunya maju sekitar satu centimeter. Matanya sedikit ke atas, memberi kode tepat pada laki - laki di depan kami.
"Oh, tidak. Memangnya kenapa?"
"Dia itu idolanya gadis - gadis Pecinta Alam. Banyak mahasiswa baru yang gabung hanya untuk mendekatinya. Menyebalkan sekali melihat adik kelas kegatelan, bergaya di depan dia," Seza nampak menggerutu. Ada pandangan yang berbeda pada punggung itu. Entahlah, baru kali ini aku melihat sepintas cemburu di raut wajahnya.

Pantas saja hampir tidak pernah aku melihatnya. Aku tidak tertarik dengan aktifitas itu. Naik gunung, mendaki bukit, lewati lembah. Eh, udah kayak Ninja Hatori. Seza memang tergabung dalam komunitas Pecinta Alam yang identik dengan naik gunung. Bersih - bersih sampah sepanjang pendakian dan bergelut dengan gelapnya alam. Ah, aku tidak suka petualangan itu. Lebih nyaman berada di kamar sambil membaca novel kesayangan. Meski sudah mengurangi aktifitasnya semenjak semester enam, tetapi Seza masih sering datang saat ada pertemuan rutin. Sabtu pagi, jadwal perkumpulan itu. Aku tahu karena setiap sabtu pagi Seza selalu rapi, sedangkan aku masih berkutat menyelesaikan novelku.

"Ran, aku berangkat dulu ya. Kamu jadi beli novel baru?" Seza sudah siap menghadiri pertemuan rutin Komunitas Pecinta Alam.
"Ya, nanti jam sembilan. Pagi buta gini toko buku belum buka juga kali," Kembali kubenamkan kepalaku.
"Ya, aku juga tahulah. Kamu ini betah banget sama bantal bau itu. Jangan lupa, nanti siang kita mau ketemu pak Gunawan," Seza meledek dan berlalu. Hari ini memang kami ada janji dengan pak Gunawan, dosen pembimbing skripsi.

Setelah mendapatkan beberapa novel, aku segera ke kampus. Kantin menjadi pemberhentian awal siang itu, aku memesan jus jeruk penghilang dahaga. Hampir 20 menit berlalu, Seza belum juga menampakkan batang hidungnya hingga minumanku mulai menyusut. Padahal kami sudah sepakat untuk bertemu di sini. Bosan menunggunya, akupun beranjak ke markas para Pecinta Alam. Ya, dugaanku benar. Pertemuan mereka belum juga selesai. Pintunya masih tertutup rapat. Beberapa ujung kepala nampak dari balik jendela kaca. Semua sedang serius mendengarkan paparan dari seseorang. Suara itu, aku mengenalnya. Aku memberanikan diri mengintip dari jendela paling belakang. Dia, si pemberi buah cinta berdiri di depan yang lain. Sepertinya akan ada re-organisasi di tubuh perkumpulan itu. Tepatnya akan ada pemilihan ketua baru.
Tanpa sadar, matanya menuju padaku. Aku terbuai wajah dan suaranya hingga menampakkan wajahku di balik kaca jendela. Sial, kaca itu tembus pandang. Aku segera menarik tubuhku, menjauh dari kaca. Dia memang terlihat mengagumkan, pantas saja banyak wanita yang menyukainya. Tubuhnya padat berisi, tinggi sekitar 170 cm, gaya rambutnya sangat serasi dengan bentuk wajahnya yang persegi. Perpaduan yang sempurna untuk seorang laki - laki.

"Ah, ada apa denganku. Kenapa aku jadi memikirkan dia. Tahan, tarik nafas panjang, keluarkan. Tenangkan dirimu, Rani." Aku segera duduk di bangku taman, tak jauh dari jendela transparan itu.

Semoga dia tidak mengenaliku, do'aku mengiringi langkah kaki, mundur teratur.


(Bersambung)

7 komentar

Terima kasih sudah main ke Catatan Tirta