√Surat Sahabat
Header catatantirta.com

Surat Sahabat



"Bun, ini surat - surat apa?" Suamiku menggenggam amplop besar berwarna cokelat berisi amplop putih yang ukurannya lebih kecil. Jumlahnya lebih dari sepuluh buah. Tebalnya berbeda- beda, begitu juga dengan bentuk lipatannya.
Akhir pekan kali ini memang hari yang sudah kami rencanakan. Memilah dokumen - dokumen lama yang menumpuk tidak beraturan. Mengumpulkan yang masih terpakai dan menyingkirkan yang sudah tidak diperlukan. Mataku berpindah pada bungkusan kertas cokelat yang berada di tangan suamiku. Aku mencoba mengingat apa isinya. Aku mengambil salah satu kertas berbentuk persegi terbungkus amplop putih.
Senyumku mengembang, terngiang masa itu. Dimana telepon genggam belum menjamur seperti sekarang. Hanya telepon rumah, itupun hanya orang - orang tertentu yang memilikinya. Warung telekomunikasi atau yang biasa disingkat wartel, sangat tenar kala itu. Jaman surat menyurat menjadi pilihan utama sebagai media untuk saling mengirim kabar pada orang - orang yang jauh dari kita. Kantor pos menjadi tempat favorit bagi para pecinta sahabat pena.
Aku mengambil amplop kecil bercorak bunga - bunga berisi kertas berbentuk segitiga. Halaman muka tertulis, " Untuk Sahabatku". Di bagian belakangnya nampak sebuah nama yang sudah aku kenal lebih dari tiga tahun saat itu. Nama yang hingga kini masih melekat dan akan terus ada di kehidupanku. Dia, sahabat yang sudah lama tidak aku jumpai. Jarak tempat tinggal kami tidak terlalu jauh, namun ruang dimana kami menghabiskan hari sudah berbeda. Rindu yang kami rasa tersalurkan melalui untaian kata yang tertuang baris demi baris. Menggoreskan tinta hitam yang juga diselingi dengan tinta warna - warni. Kami tidak bertegur sapa, tetapi kami saling mengetahui apa saja yang kami lakukan. Terkadang dengan sengaja kami berencana menghabiskan libur sekolah untuk bermain bersama.
Semenjak meninggalkan seragam putih biru, kami melanjutkan pendidikan di sekolah yang berbeda. Tempat kami menuntut ilmu berbeda arah, aku ke arah utara sedangkan dia ke selatan. Ya, bergerak saling menjauh. Inilah alasan utama kami jarang sekali bertemu, hanya untaian kata mewakili canda ria yang kami alami di dunia masing- masing. Saat aku melintasi desanya, gerbang desa itu seperti tahu bahwa aku merindukan salah satu warganya. Begitupun dengannya, merindukanku diantara pohon jati yang berjejer sepanjang perjalanan menuju ke sekolahnya. Kami saling merindu, kamipun saling menyapa dalam lantunan cerita indah.
Di sebuah ruang dengan kipas besar sebagai penyejuknya kami bertemu. Kebersamaan kami terjalin begitu saja, mengalir seperti air pegunungan yang menyatu di laut lepas. Kami mempunyai ekstrakulikuler yang sama saat itu. Hal inilah yang membuat kami menjadi semakin dekat. Walaupun di kelas kami duduk di bangku yang berbeda, tetapi kesamaan kegiatan menyatukan kami. Kami juga mengikuti les tambahan yang sama, belajar mengenal komputer bersama.
Aku kembali memutar memori yang lebih dari sepuluh tahun berlalu. Surat demi surat kami terbang tanpa perantara pak Pos. Ya, bukan pak Pos berseragam jingga yang menyampaikan lembar demi lembar kerinduan kami. Secara kebetulan, salah satu teman putih abu - abunya mempunyai teman yang ternyata bersekolah di sekolah yang sama dengan ku. Lebih luar biasa lagi, teman itu satu kelas dengan ku. Ah, ini sebuah kejaiban, pikirku saat itu. Mungkin Tuhan sengaja meletakkan mereka diantara kami agar kami tetap saling terhubung. Memudahkan kami mengirim surat tanpa ongkos. Maklum masa itu uang saku kami pun hanya cukup untuk membeli beberapa gorengan dan ongkos naik bis.
"Persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu - kupu."
Lirik lagu dari salah satu band kenamaan ini sangat cocok untung perjalanan hidup kami. Dimana kami saling terikat ketika kami masih bau kencur, hingga kini kami telah mempunyai keluarga kecil di kota yang berbeda. Jarak memisahkan kami kembali, namun persahabatan tetap terjalin hingga kini. Kami selalu berusaha menjaganya, terus merajut rasa yang kami sebut Sahabat.
Hai, Sobat. Dimanapun kamu berada, tetaplah menjadi bagian dari perjalanan ini.
Aku dan kamu telah menjadi kita dalam ikatan persahabatan. Dulu, kini, dan selamanya.



#SerpihanCahaya
#SMANSAMenulis05
#Tantangan30hariMenulis
#SeptemberMenulis

4 komentar

Terima kasih sudah main ke Catatan Tirta
  1. Aku punya nih. Temenku di jogja. Sekarang kontaknya aja gak ada di hp. 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Segera dicari Pik.,ubek2 medsos,colek sana sini.Sapa tahu bisa ke Jogja dan ketemuan., :)

      Hapus
  2. Siapa ya sahabat dwi? Yang biasa bareng jaman pramuka bukan wi? Hehehe kepo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Horeeeeee Putri_AQpedia kepo.,hayoook ditebak - tebak. hehhehehe

      Hapus