√Kami Bersaudara
Header catatantirta.com

Kami Bersaudara




Orang tua jaman penjajahan dulu sering melakukan poligami, hanya saja belum mengikuti syariat yang dianjurkan. Mereka sering menikah dan memiliki banyak istri di beberapa daerah. Ada yang menikah siri, adapula yang resmi. Kebanyakan dari mereka adalah tentara perang pejuang kemerdekaan. Setiap kali ditugaskan ke daerah tertentu, maka di sana ada wanita yang menjadi istri. Sekali lagi, istri dengan menikah resmi ataupun siri. Dari pernikahan itu, da yang mempunyai keturunan, ada juga yang tidak.

Kakek kami, salah satu contoh prajurit pengusir penjajah dengan banyak istri. Berdasar cerita dari nenek kami, kakek mempunyai sepuluh istri. Dari sepuluh istrinya itu, tiga orang saja yang dikaruniai keturunan. Dua diantaranya tinggal satu desa, namun beda tempat tinggal. Satu lagi berada di desa lain yang masih satu kecamatan. Ketiga istri beliau saling mengenal. Mereka menghormati satu sama lain. Walaupun kakek lebih memilih tinggal bersama dengan salah satunya saja, tetapi yang lain tidak  protes. Kadang saya merasa aneh dengan hal itu. Apakah wanita atau istri jaman dahulu setegar itukah. Apakah tidak ada rasa cemburu atau rasa benci pada madu mereka.  Jawabannya di luar akal pikiran dan hati saya. Sungguh, di luar praduga saya. Bagaimana mereka bisa menata hati dan tetap saling menghormati.

Nenek saya adalah satu diantara istri kakek yang beruntung. Kakek memilih tinggal bersama beliau di akhir petualangan cintanya. Mereka dikaruniai delapan orang anak, tiga orang meninggal dunia semasa kecil. Menyisakan lima bersaudara, dua anak perempuan dan tiga anak laki - laki. Sedangkan dari istri yang lain, ada lima orang anak juga.
Kesepuluh anak kakek hidup rukun. Mereka saling mengasihi dan menyayangi. Saling menolong dan menjalin silaturahim yang baik. Mereka berinteraksi tanpa ada rasa iri ataupun dengki karena berbagi orang tua. Saya tahu ini hasil dari didikan kakek yang bijak.

"Lah apen kepriben maning, dadi wong wadon kue kudu manut karo bojone, ben bae nduwe garwa maning, sing penting simbah cukup sandangane, pakanne, karo umahe" Dengan logat jawa nenek memberi sedikit alasan tentang rasa penasaran saya.
Dalam bahasa Indonesia, kira - kira seperti ini artinya: 
"Mau bagaimana lagi, yang namanya istri itu nurut sama suami. Walaupun suami punya istri lain, biarkan saja, yang penting nenek masih dicukupi sandang, pangan dan papan" Jelas nenek saya.
Saya menggenggam tangan nenek saat mengajukan pertanyaan itu. Nenek tidak menampakkan kecemasan sedikit pun di wajahnya. Tangannya tetap hangat terbalut kulit keriput. Sungguh jawaban yang sederhana. Rasa cemburu, benci, dan sakit hati ketika mengetahui suaminya mendua terkubur dalam. Tergantikan dengan hadirnya anak - anak yang menghiasi kehidupannya. Nenek bertahan demi anak-  anaknya. Beliau bisa seikhlas dan sabar seperti itu sangatlah luar biasa. 

Bersyukur para orangtua kami dididik untuk saling menghormati dan menyayangi. Meskipun berbeda ibu, mereka bisa berhubungan baik. Jarang terlibat perselisihan. Terbiasa saling mengunjungi dan berkirim kabar jika ada acara atau kegiatan apapun. Kakek berhasil menanamkan jiwa persaudaraan diantara anak - anak beliau. Istri - istri beliau pun jarang sekali bertengkar. Semua hidup rukun dan saling merangkul. Begitupun dengan kami para cucu beliau. Kami mengenal istri, anak dan cucu beliau yang lain. Kami diajarkan untuk saling mengasihi, kami semua bersaudara.

Kakek, beliau teladan bagi kami. Bukan tentang poligami yang beliau lakukan, tetapi lebih pada sikap beliau yang seimbang terhadap keluarga besarnya. Kakek berhasil menyatukan semua keluarga besarnya untuk tetap saling menjaga hubungan baik. Kami para cucu beliau saling menyayangi tanpa syarat. Tidak peduli dari nenek mana kami berasal, semuanya adalah keluarga yang patut dijaga dan dikasihi. Kakek, meski kini engkau sudah berpulang, kami di sini masih akan terus bergandengan. Menjalin kekeluargaan, merajut tali persaudaraan yang engkau ciptakan.  

Kami akan tetap  seperti ini, berkumpul layaknya warna - warni  pelangi yang indah. Berbeda, namun menyatu tanpa celah menghiasi langit setelah gerimis. Kami berasal dari darah yang sama.
 Kami semua bersaudara.




#SerpihanCahaya
#SMANSAMenulis05
#Tantangan30hariMenulis
#SeptemberMenulis


4 komentar

Terima kasih sudah main ke Catatan Tirta
  1. istri jaman dulu memang cenderung nerimo ya dwi ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya Bet, aku juga masih sering tanya sama nenek soal itu. jawabannya tetap sama, ga nambah , ga kurang.

      Hapus
  2. Balasan
    1. hati saya pun begitu., mungkin ga akan bisa seluas itu.

      Hapus