√Jahitan Penyatu Hati
Header catatantirta.com

Jahitan Penyatu Hati



Pagi itu mentari terlihat biasa saja. Tidak nampak pertanda akan hadirnya sebuah peristiwa. Seperti hari - hari yang lalu, rutinitas pagiku adalah bangun tidur, merapikan selimut dan kasur, kemudian bergegas mandi. Kumandang adzan terdengar sangat menggema, jaraknya hanya lima puluh meter untuk sampai ke kamar kos yang ku tempati. Alarm yang selalu membuatku terjaga dari buaian mimpi. Beruntungnya aku, karena selalu diingatkan akan kewajibanku kepada Sang Pencipta alam semesta.
Sekitar tiga puluh menit ku habiskan waktu untuk mempersiapkan diriku sebelum berangkat bekerja. Jarak yang tidak terlalu jauh membuatku dapat bersantai menikmati berita pagi di stasiun televisi. Bismillah, langkah kakiku menuju tempat mengais rejeki. Berbaur dengan teman, bercengkrama sejenak sambil menunggu bus jemputan datang. Kami para pegawai pabrik berbaris sepanjang jalan dengan seragam kerja yang beragam. Dari warna dan tulisan di saku baju, bisa diketahui nama perusahaan tempat kami bekerja.
Bus jemputan pun datang, membawa kami menuju bangunan besar dengan warna biru menghiasi dinding - dindingnya. Ya, perusahaan manufacturing kami identik dengan warna biru. Sebagai pegawainya, kami selalu bangga dengan warna itu. Bahkan kami menyebutnya Kampus Biru.
Setiap hari, sepuluh menit sebelum jam kerja dimulai, kami melakukan meeting bersama. Mendengarkan informasi terbaru terkait pekerjaan yang kami lakukan. Kali ini ada info tambahan. Pihak management memberlakukan baju dan topi khusus untuk departemen kami. Baju itu semacam rompi yang mengandung antistatik. Ini bertujuan untuk menjaga kualitas dari produk yang kami buat. Masing - masing dari kami menerima dua buah rompi dan satu topi.  Kami pun mendapat bordir nama yang harus dipasang di saku kiri rompi dan topi bagian kiri yang telah dibagikan. Ini bertujuan agar mudah mengenali setiap karyawan, karena dengan baju dan topi yang sama akan sulit membedakan siapa pemakainya.
"Mas, ini baju, topi dan bordir namamu, tadi  mbak Rini menitipkannya padaku" Ucapku padanya yang duduk bersebalahan denganku.
Ia hanya melirik sebentar sambil berucap terima kasih, namun mata dan tangannya masih fokus pada layar dekstop. Ah, aku tahu pasti apa yang sedang dia lakukan. Deadline laporan kualitas produk, itu yang menjadi kewajibannya setiap pagi. Ku tinggalkan dia dengan kesibukan paginya. Waktu pun berjalan seperti biasa. Aku dan dia, berjarak satu meter tetapi jarang bertegur sapa. Aku dengan pekerjaanku, dia dengan tugas - tugasnya.
Mentari mulai bergeser ke sisi barat, pertanda waktu pulang segera tiba. Aku pun berkemas, bersiap meninggalkan meja kerjaku. Aku menemukan baju, topi, dan bordir nama masih tergeletak di meja sebelah. Poisisinya masih sama ketika aku meletakkannya tadi pagi. Dia selalu begitu, bergelut dengan pekerjaan yang tiada habisnya. Membuatnya lupa waktu dan melewatkan banyak hal.
"Kamu sudah mau pulang ya" Ucapnya sambil menarik kursi dan duduk di meja kerjanya.
"Iya, kenapa" Jawabku tanpa melihatnya.
"Ini seragam mulai dipakai kapan ? Tanyanya membolak - balikkan baju yang sejak pagi tak tersentuh.
"Besok sudah harus dipakai, lengkap dengan bordir namanya" Jelasku singkat.
"Harus besok? Duh, hari ini aku lembur, banyak masalah produk. Aku nitip kamu saja ya, tolong jahitkan sekalian" Tubuhnya mengarah padaku.
"Oh, ya sudah sini, aku bawa sekalian" Ku ambil seragam miliknya dan berlalu dari hadapannya.
Meski hanya berjarak satu meter, kami memang jarang sekali berbicara. Hanya hal - hal terkait pekerjaan saja yang menjadi topik singkat di sela - sela jam kerja.
Turun dari bus pengantar karyawan, aku langsung menuju kios penjahit bersama beberapa teman. Namun kami kurang beruntung, si abang penjahit tidak membuka kiosnya. Kami pun gagal menggunakan jasanya.
"Ta, jahit manual aja. Toh cuma bordir nama" Saran Lipah pada kami.
Kami pun berbalik pulang. Ya, menjahit sendiri tidak apalah. Hanya bordir nama saja, tidak harus rapih yang penting terpasang.
Keesokan hari, dia menungguku di pintu gedung. Wajahnya menunduk, jarinya bermain smartphone. Rompi dan topi memang sudah harus dipakai sebelum masuk ke gedung tempat kami bekerja.
"Ini seragamnya" Ku sodorkan plastik berisi rompi dan topi. Aku pun berlalu tanpa mengaharap ucapan terima kasih darinya.
Hari itu berlalu, aku tidak melihatnya mampir di meja kerjanya. Sudah tidak aneh lagi, meja berjarak satu meter itu memang jarang disambangi penghuninya. Aku larut dengan pekerjaanku, delapan jam kerja terlewat begitu saja. Ujung minggu pun datang, waktunya melupakan pekerjaan. Menyegarkan otak dan badan, bermalas - malasan serta menikmati drama korea yang sudah kusiapkan.
Bep bep, bep bep, ponsel bergetar. Sebuah pesan singkat mampir dari nomor yang belum terdaftar.
"Makasih untuk jahitannya, tapi kurang rapi sedikit di bagian topi".
Sejenak aku terdiam menatap layar ponsel, memikirkan siapa pengirim pesan singkat ini. Jahitan. Topi. Oh, aku tersadar. Ini pasti dari pemilik meja kerja tak bertuan. Aku memang telah menjahit manual bordir nama di rompi dan topinya, karena kios si abang penjahit tutup. Aku tidak membalas pesan itu, biarkanlah, tidak perlu dibalas, pikirku.
Liburan telah usai, senin pun menjelang. Aku, kembali menjalani rutinitas hidupku. Bangun dan berangkat berkeja seperti biasa.
"Hei, yang kemarin aku sms itu benar nomor mu kan" Tegurnya menatap layar desktop.
"Iya, benar" Aku pun tetap dengan posisiku, menatap layar desktop.
Semenjak pesan singkat itu, kami mulai berkomunikasi. Bukan saling bertatap layaknya komunikasi dua arah. Kami bercakap melalui sebuah aplikasi chating. Di sela - sela bekerja ataupun saat libur bekerja. Perlahan kami menjadi sering bertegur sapa. Aku mulai mengenalnya lebih jauh.

Jahitan tanganku, menjadi awal bersatunya hatiku dan hatinya.


#SerpihanCahaya
#SMANSAMenulis05
#Tantangan30hariMenulis
#SeptemberMenulis


(Hutang,07Sept2017)
 

Posting Komentar

Terima kasih sudah main ke Catatan Tirta