√Wisata Sejarah Ke Pura Mangkunegaran Solo
Header catatantirta.com

Wisata Sejarah Ke Pura Mangkunegaran Solo

Pura Mangkunegaran Solo

Ayo belajar sejarah kebudayaan

Hai Sahabat

Catatantirta mau berbagi pengalaman berkunjung ke Pura Mangkunegaran di Solo. Ada pembelajaran yang kami dapatkan setelah berkunjung ke istana Adipati Mangkunegaran ini.

Yuk ikuti tuntas perjalanan kami di Pura Mamgkunegaran.

Tentang Pura Mangkunegaran

Pura Mangkunegaraan merupakan sebuah istana di Surakarta yang menjadi tempat tinggal resmi para Adipati Mangkunegaran.

Sejarah singkatnya, Pura Mangkunegaran ini menjadi salah satu istana dari kerajaan Yogyakarta.

Saat ini, Pura Mangkunegaran menjadi hunian bagi Adipati ke X Surakarta. Selain sebagai tempat tinggal, beberapa bangunan di Pura Mangkunegaran dijadikan museum dan tempat terbuka untuk umum. Masyarakat diperbolehkan masuk dengan beberapa aturan tertentu. 

Ada beberapa larangan yang berlaku ketika kita mengunjungi Pura Mangkunegaran. Jadi apabila sahabat berkunjung ke Pura Mangkunegaran harus memperhatikan dan menaati aturan yang berlaku.

Sejarah Singkat Pura Mangkunegaran

Sejarah singkat Pura Mangkunegaran
Foto diambil dari Museum Pura Mangkunegaran
Pura Mangkunegaraan didirikan pada tahun 1757 oleh Raden Mas Said atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Awal pembangunan Pura Mangkunegaraan ini setelah adanya Perjanjian Salatiga yang salah satu isinya mengangkat Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa menjadi Adipati di wilayah Mangkunegaran.

Saat menjabat sebagai Adipati Mangkunegaraan, Pangeran Sambernyawa mendapat gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I. Adapun gelar lengkapnya juga ada yaitu Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara Senopati Ing Ayudha Sudibyaningprang. 

Saat ini yang menjabat dan bertempat di Pura Mangkunegaran adalah keluarga dari Kanjeng Gusti Pangeran Adipari Arya Mangkunegaran X. Beliau baru saja diangkat pada bulan Mei 2022 menggantikan ayahandanya yang telah mangkat lebih dulu.

Lokasi Pura Mangkunegaran

Lokasi Pura Mangkunegaran

Lokasi Pura Mangkunegara berada di Kelurahan Keprabon, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta.
Kata Pura di sini artinya adalah istana, bukan pura tempat ibadah. Sebagai salah satu cagar budaya, Pura Mangkunegaraan dijadikan museum yang bisa dikunjungi oleh masyarakat umum. Namun, ada beberapa bagian bangunan yang tidak boleh dijamah karena merupakan tempat tinggal Adipati beserta keluarganya. Ada pula beberapa bangunan yang memang dilarang untuk dilihat dan didokumentasikan (foto atau video) sebab untuk menjaga kesakralan ruangan tersebut.

Pengalaman Berkunjung Ke Pura Mangkunegaran Solo

Pengalaman berkunjung ke Pura Mangkunegaran

Keluarga Jejak Lampah sudah lama ingin berkunjung ke kota Solo. Kami sengaja membuat agenda khusus untuk menjelajahi beberapa tempat di Solo. Diantaranya yaitu Kampung Batik Laweyan dan Pura Mangkunegaran.

Alasan Kunjungan Ke Pura Mangkunegaran

Saat ini kami tinggal di daerah Jawa Barat. Anak-anak tumbuh di lingkungan dengan adat dan kebudayaan Jawa Barat. Mereka mendapat pelajaran sejarah Jawa Barat. Melihat kebudayaan Jawa Barat. Sebagai orang tua keturunan suku Jawa yang dulu sekolah di daerah Jawa ada panggilan bahwa kami harus mengenalkan adat, budaya dan kebiasaan masyarakat Jawa agar mereka tahu dan tetap mencintai kebudayaan asal orangtua mereka. Bukan kami memandang sebelah mata untuk kebudayaan dan tradisi di Jawa Barat, tetapi rasanya perlu mengenalkan tradisi dan budaya yang pernah kami pelajari.

Itulah salah satu alasan kunjungan ke Pura Mangkunegara. Mengenalkan sejarah kebudayaan yang ada di masyarakat Jawa pada anak-anak agar wawasan mereka bertambah.

Perjalanan Menuju Pura Mangkunegaran

Hari itu kami membuat daftar tempat yang akan didatangi. Kami rencananya ingin mengunjungi 4 lokasi yaitu :
  1. Kampung Batik Laweyan
  2. Taman Sriwedari
  3. Taman Balekambang
  4. Pura Mangkunegaran
Pagi hari sekitar pukul 10.00 wib, kami sudah beranjak dari penginapan di hotel Grand HAP Solo. Melalui pesanan taksi online kami langsung menuju kampung batik Laweyan sebagai tujuan pertama. Letaknya paling dekat dengan tempat kami menginap sehingga belajar membatik menjadi langkah awal kami.

Selesai belajar membatik langsung dari pengrajinnya di kampung batik laweyan, kami rencananya ingin ke Taman Sriwedari. Namun dari informasi warga sekitar ternyata Taman Sriwedari sudah tidak terawat sehingga kurang tepat jika berkunjung ke sana.

Perjalanan ke Pura Mangkunegaran

Gagal menjejakkan kaki di Taman Sriwedari, kami langsung banting setir ke Taman Balekambang. Kami mendengar bahwa Taman Balekambang sudah selesai tahap renovasi dan telah resmi dibuka kembali. Kami pun mantap ingin bersantai dan menikmati suasana kota Solo di Taman Sriwedari.

Sebuah taksi online mendarat dengan tepat dan langsung membawa kami ke arah Taman Balekambang. Hari itu jalanan kota Solo cukup lengang karena sedang hari libur. Sopir taksi online mengajak kami bercakap dan juga menanyakan tujuan ke Taman Balekambang untuk apa. Saya singkat menjawab ingin main saja. Namun sayangnya, kabar yang kami dapat ternyata salah. Taman Balekambang belum bisa dibuka untuk umum karena masih tahap pembangunan.

Menurut info dari pak sopir taksi online, Taman Balekambang memang sudah diresmikan akan tetapi itu adalah peresmian tahap renovasi, bukan pembukaan untuk umum.

Rasa kecewa menyelimuti kami. Cuaca panas sepertinya mewakili pikiran saya yang mulai naik level. Anak-anak mulai cemas dan bosan karena mendapat kabar gagal ke tempat yang dituju. Beruntung pak sopir bersedia mengantar kami langsung ke Pura Mangkunegaran. Beliau menawarkan jasa taksi tanpa aplikasi karena jika lewat aplikasi bisa jadi kami tidak terhubung lagi dengan beliau. Setelah sepakat harga, kami lanjut ke tujuan berikutnya tanpa harus berpanas-panasan.

Tak butuh waktu lama, kami sudah sampai tepat di area pintu masuk museum. Matahari makin terasa menyengat sebab tepat berada di atas kepala. Tanpa berpikir lama, kami langsung menuju loket pembelian tiket. Di sana tertulis Museum Pura Mangkunegaran dengan banyak pengunjung yang sudah mengantri. Kami pun masuk dalam antrian yang cukup panjang.
Harga tiket museum Pura Mangkunegaran
Sambil tertib mengantri, saya melihat dan membaca situasi sekitar untuk mencari info besaran tarif tiket masuknya. Kunjungan kami di hari libur nasional membuat Pura Mangkunegaraan cukup ramai. Biaya masuk atau harga tiketnya adalah Rp. 35.000 / orang untuk pengunjung lokal / domestik dan Rp. 50.000 / orang untuk turis mancanegara.

Saat membeli tiket, petugas memberitahukan bahwa nanti selama keliling Pura Mangkunegaran, kami akan didampingi oleh guide. Guide tersebut yang akan menjelaskan hal-hal seputar Pura Mangkunegaran termasukn larangan yang berlaku di sana. Anehnya, kami mendapat pesan agar memberi sedikit uang tip atau jasa untuk guide yang nantinya mendampingi kami.

Saya langsung merasa aneh dan curiga. Mengapa ada pesan seperti itu dari pihak pengelola? Bukankah kami sudah membayar tiket masuk? Jujur saat itu saya merasa kalau hal ini kurang benar. Namun saya hanya mengangguk dan lanjut melangkah ke pintu masuk Pura Mangkunegaran. Saya memendam rasa penasaran itu sambil mengolah semua kejadian yang mungkin akan menjadi alasan terbaik.

Tepat di depan pintu masuk, tersedia kain batik khas Solo yang wajib dipakai oleh pengunjung tertentu. Kain tersebut wajib dipakai bagi pengunjung yang memakai bawahan pendek di atas lutut. Pengunjung laki-laki dengan celana pendek, perempuan dengan rok atau celana pendek diharuskan menutupi bagian tubuhnya tersebut dengan kain jarik yang disediakan.

Keliling Pura Mangkunegaran
Mendengarkan sejarah Pura Mangkunegaran oleh guide

Sebelum masuk ke kawasan Pura Mangkunegaran, pengunjung dikumpulkan menjadi satu kelompok dengan jumlah tertentu. Kebetulan kelompok kami terdiri dari 14 orang dan semuanya perempuan. Kami ditemani satu guide yang akan menemani kami berkeliling Pura Mangkunegaran. Saya berpikir mengapa perlu guide sedangkan ini adalah museum. Jawaban atas pertanyaan saya pun tuntas sejak pertama masuk ke area Pura Mangkunegaran.

Aturan Di Pura Mangkunegaran

Sedari awal masuk ke Pura Mangkunegaran, guide menjelaskan bahwa ada aturan yang berlaku di sana. Diantaranya yaitu :

  • Dilarang mengambil foto atau video sembarangan
  • Memakai pakaian sesuai aturan
  • Dilarang makan dan minum
  • Dilarang memasuki beberapa wilayah
  • Melepas alas kaki ketika masuk ke area tertentu
Salah satu halaman Pura Mangkunegaran

Sedikit penjelasasan tentang aturan atau larangan di atas yaitu bahwa pada dasaranya Pura Mangkunegaran ini adalah kediaman atau istana dari Adipati Mangkunegaran. Saat ini Pura Mangkunegaran dibuka untuk umum sebagai media pembelajaran bagi masyarakat. Namun, ada ruangan atau bangunan tertentu yang tidak boleh dijamah yaitu area kediaman Adipati beserta keluarga dan abdi dalemnya.

Larangan makan dan minum berkaitan dengan kebersihan dan pencegahan kerusakan dari bangunan dan ornamen yang ada di Pura Mangkunegaran. Sedangkan melepas alas kaki wajib dilakukan ketika memasuki area pendopo Pura Mangkunegaran. Tujuannya adalah untuk menjaga kebersihan dan juga kelestarian lantai di pendopo.

Jawaban Atas Rasa Penasaran

Guide di Pura Mangkunegaran

Selama kami berkeliling Pura Mangkunegaran, guide menjelaskan banyak pengetahuan dan informasi. Mulai dari sejarah berdirinya Pura Mangkunegaran, Adipati dari generasi ke generasi, aneka kejadian yang pernah terjadi di Pura Mangkunegaran, berbagai kegiatan yang dilakukan di Pura Mangkunegaran, dan juga mengingatkan kami untuk berkata sopan dan menjadi sikap selama berada di area Pura Mangkunegaran.

Guide yang mendampingi kelompok kami menjelaskan semuanya dengan baik dan jelas. Usia masih sangat muda, sekitar 20 tahun. Saya pribadi banyak bertanya tentang hal yang kadang tidak ada kaitannya dengan sejarah atau isi dari Pura Mangkunegaran. Namun dari pertanyaan-pertanyaan inilah saya mendapat jawaban atas rasa penasaran yang terkumpul dari awal membeli tiket masuk.

Nyatanya, guide yang mendampingi kami bukanlah pegawai resmi dari pengelola atau pengurus Pura Mangkunegaran. Para guide merupakan volunter yang dulunya pernah magang atau praktek di Pura Mangkunegaran. Rata-rata mereka berasal dari sekolah jurusan Pariwisata. Mereka datang menjadi gudei pada waktu-waktu tertentu seperti saat liburan hari raya, libur panjang dan akhir pekan. Mereka dihubungi oleh petugas museum untuk berpartisipasi mengenalkan, menjelaskan, dan menjaga kelestarian semua yang ada di Pura Mangkunegaran.

Tak heran jika petugas tiket masuk memberi pesan atau saran agar kami menyisihkan sedikit tanda jasa untuk para guide. Saya rasa mereka memang layak mendapatkan apresiasi dari pengunjung sebab pengetahuan mereka tentang sejarah dan situasi di Pura Mangkunegaraan sangatlah detail dan komplit. Saya sempat terkagum-kagum ketika giude kami menjelaskan soal Perjanjian Saltiga, lalu nama-nama gamelan yang ada di pendopo, dana juga lukisan-lukisan yang ada di dinding seputar Pura Mangkunegaran.

Benda koleksi di Pura Mangkunegaran
Benda koleksi di Pura Mangkunegaran
Saya pribadi mengucapkan banyak terima kasih pada guide yang menjadi pendamping kami sebab ia sangat sabar menjawab setiap pertanyaan kami meski kadang di luar topik alias out of the box.

Salah satu pertanyaan dari seorang pengunjung di kelompok kami yaitu menanyakan tentang Kanjeng Adipati Mangkunegaran X yang baru saja dilantik. Beliau yang masih muda dan belum memiliki istri membuat siapapun perempuan single terpesona. Bukan hanya karena statusnya sebagai Adipati tetapi juga dari rupa beliau yang tampan dan gagah.

"Kriteria apa yang bisa masuk menjadi calon istri Kanjeng Adipati Mangkunegaran X?" Begitu seloroh seorang pengunjung.

Sambil tersenyum guide kami menjawab bahwa syarat utamanya yaitu memiliki garis keturunan darah biru, berpendidikan, berperilaku baik, dan syarat lainnya sesuai kebijakan.

Menutup Kunjungan Di Pura Mangkunegaran

Gamelan di pendopo Pura Mangkunegaran
Gamelan di Pendopo Pura Mangkunegaran
Matahari mulai condong ke sisi barat. Tak terasa sudah 2 jam lebih kami berkeliling Pura Mangunegaran. Mempelajari sejarah dan juga semua isi yang ada di Pura Mangkunegaran. Kami juga berfoto dan mendokumentasikan diri di tempat-temlat yang diperbolehkan. Sang guide juga dengan senang hati membantu kami mengambil gambar yang cukup estetik.
tempat terakhir sebelum kami ke luar dari Pura Mangkunegaran adalah restoran istimewa yang ada di Pura Mangkunegaran. Namanya Resto  Taman Pracima Mangkuenagara. Tidak semua pengunjung boleh masuk ke area resto Pracima. Hanya yang telah melakukan reservasi yang bisa masuk dan makan di sana.
Resto Pracima di Pura Mangkunegaran
Resto Pracima
Meski tidak bisa masuk ke resto Pracima, kami sudah terkesan melihat rupa bangunannya dari kejauhan.

Selesai berfoto dan menikmati suasana Pura Mangkunegaran, kami diantar oleh guide menuju pintu ke luar. Selain sudah lelah berkeliling, Pura Mangkunegaran juga akan segera tutup. Kami menutup kunjungan di Pura Mangkunegaran dengan banyak informasi sejarah dan kebudayaan yang perlu kita jaga kelestariannya.

Buat sahabat yang ingin berkunjung ke Pura Mangkunegaran, Tirta sarankan untuk datang lebih pagi agar lebih terasa ketentraman di Pura Mangkunegaran. Syukur-syukur kalau lagi berkeliling bisa berpapasana dengan Kanjeng Adipati Mangkunegaran X yang memesona.

Salam literasi


16 komentar

Terima kasih sudah main ke Catatan Tirta
  1. Menjelajahi budaya Indonesia makin menambah keimanan kita akan iman di dada.. insyaallah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, kak. Insya Allah dengan mengenal dan belajar sejarah juga kebudayaan Indonesia yang juga mendapat banyak pengaruh dari kebudayaan Islam jadi menambah keimanan kita

      Hapus
  2. Dulu masa kecil saya tinggal di Solo. Rumah orang tua saya ada di asrama tentara dekat Mangkunegaran. Tisp sore banyak anak-ansk bermain di halaman Pura Mangkunegaran (di area yg diperbolehkan untuk umum). Pengin berkunjung ke kraton Mangkunegaran, supaya anak-anak kenal budaya Jawa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mba, ada area yang bisa diakses untuk umum
      Bismillah semoga bisa wujudkan ya mba, berkunjung ke Pura Mangkunegaran

      Hapus
  3. Wah, seru banget liburan di Solo-nya, Mba! Bisa jadi list destination ku nih kalau lagi ke Solo. Belajar sejarah, belajar membatik. Anak-anak pasti punya pengalaman dan kesan tersendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, mba. Belajar sejarah dan budaya secara langsung lebih mengena bagi anak-anak.

      Hapus
  4. saya dulu pernah kerja di Solo, menurut saya kota ini tidak kalah denga jogja akan keramahan masyarakatnya, dengan pengelolaan yang tepat kota ini bisa menjadi destinasi wisata alternatif selain jogja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, pak. Saya pun setuju dengan pernyataan ini. Suasana kota Solo mirip dengan Yogyakarta.

      Hapus
  5. Kalau posisi sebagai Kanjeng Adipati Mangkunegaran X ini selevel apa ya mbak? Apa seperti raja begitu ya? Kalau selevel raja keren juga ada raja yang masih single haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dari sejarahnya, posisi Adipati ada di bawah raja. Mungkin semacam Gubernur sebab Mangkunegaran bagian dari Keraton Yogyakarta. Nah kalau di kerajaan Korea pasti banyak yang bersaing pengen jadi calon istri ya, hihihi

      Hapus
  6. Ada-ada saja ya pertanyaan pengunjung yang menanyakan kriteria istri Adipati. tapi penting juga biar pada tau kalau kriteria utamanya harus berdarah biru, ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kak. Salut sama guide nya yang merespon dengan santun tanpa menyepelekan pertanyaan apapun. Syarat tersebut sepertinya umum di banyak kerajaan dan masih ada juga di kalangan masyarakat umum.

      Hapus
  7. Wisata sejarah seperti ini nih yang saya suka, penasaran dari dulu dengan pura mangkunegaran, next agenda wajib mampir nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo, kak. Agendakan berkunjung ke Pura Mangkunegaraan.

      Hapus
  8. masya Allagh fotonya cakep2 lho aku suka. aku bau tahu kalo raden mas said itu memiliki nama panjang itu ya mbak

    BalasHapus
  9. Masya Allah lihat fotonya aja udah luar biasa sekali, apalagi bisa dikunjungi secara langsung

    BalasHapus