√Memahami Gaya Belajar Anak
Header catatantirta.com

Memahami Gaya Belajar Anak


Rangkuman Hasil Pengamatan Gaya Belajar Nala Selama Tujuh Hari
Tantangan di level 4 kelas Bunda Sayang membahas tentang "Memahami Gaya Belajar Anak". Objek saya tentu saya masih dengan anak sulung yang cantik dan menggemaskan. Calon adiknya Insya Allah akan launching tahun depan.
Sebelumnya saya menuliskan kegiatan pengamatan gaya belajar Nala di akun instagram. Media sosial ini saya pilih karena memang melampirkan beberapa foto dan video serta narasi singkat terkait aktifitas yang terjadi. Berikut saya merangkum atau memindahkannya agar lebih terlihat pola belajar Nala selama satu minggu ini.
     1.      Hari Pertama (29 November 2018)
Membaca Arah Angin.
Sebagai awal dari pengamatan cara belajar anak, saya mengajak Nala untuk menikmati angin sore. Hujan yang sempat turun di siang hari membuat udara sore terasa sejuk.  Agenda Nala setelah tidur siang dan mandi adalah bermain di luar rumah. Bercengkrama dengan teman-temannya. Berlarian atau main apa saja termasuk membaca buku bersama. Semilir sang bayu menginspirasi sehingga tepat sekali menjadi media belajar.
Saya memberi arahan pada Nala untuk merasakan hembusan angin yang memainkan rambutnya.

"Dari mana arah angin yang mengenai rambut Nala?" Tanya saya sambil ikut merasakan angin.

Tangan Nala menunjuk ke arah utara. Namun saya menggelengkan kepala tanda jawabannya kurang tepat. Lantas Nala mengulangi percobaannya merasakan angin. Matanya terpejam dan anginpun menyapu helai-helai rambutnya. Kemudian tangannya menunjuk ke arah timur. .

"Anginnya dari sana, Ma."

Saya bertepuk tangan dan memberi tanda jempol sebagai jawaban yang benar.
Yea, Nala bersorak gembira. Senyum simpul mengembang diiringi lompatan kaki.
Terpaan angin berhasil diketahui arahnya. Nala merasakannya pada rambut juga wajahnya.

Bisa dikatakan bahwa Nala mengetahui arah angin secara kinestetik yaitu dari sentuhan angin yang menerpa rambut dan wajahnya. Selain itu, Nala juga belajar secara  visual dengan melihat arah rambutnya bergerak.
Belajar bersama alam sungguh menyenangkan.

2.      Hari ke Dua
Bunga Matahari.
Dampak dari tontonan televisi bagi anak bisa positif atau negatif. Tergantung acara apa yang dilihat dan bagaimana orangtua mengawasi juga mengarahkan.
Kartun Upin Ipin kesukaan Nala dan mungkin bagi banyak anak lain memiliki nilai positif yang lebih dominan. Bahkan meski diputar ratusan kali tetap tidak membosankan bagi anak. Kalau untuk orangtua tentu sudah khatam dan tidak menarik.
Salah satu tokoh anak perempuan bermata sipit yang menjadi teman Upin dan Ipin menjadi sumber inspirasi Nala. Mei Mei anak yang ceria dan menyukai bunga matahari. Beberapa episode menampilkan MeiMei membawa bunga matahari. Nah, Nala mencoba untuk menggambarnya.

Hasil pengamatan Nala menonton televisi terek cukup bagus. Terlihat dari goresan spidol yang tertuang. Beberapa bunga matahari dibentuk dengan dua daun di bawahnya. Sambil bersenandung, Nala menggambar banyak bunga matahari. .
Hasilnya cukup bagus, meski bentuk daunnya belum pas. Tetapi Nala mampu mencurahkan hasil belajarnya secara visual dan auditory.

"Bunga matahari sangat cantik. Kembang di waktu pagi. Daunnya hijau. Bunganya kuning. Memikat kumbag lalu. Bunga matahari sangat cantik. Di halaman rumahku."
Senandung lagi terus mengalun selama proses menggambar.

3.      Hari ke Tiga
Montir Cilik.
Sifat kepo nya Nala sering kali membuat terpana. Bisa karena di luar pikiran atau terlalu banyak yang ditanya. Rasa ingin tahu Nala selalu muncul. 
Kapan pun.
Di mana pun.
Situasi apapun.
Semua hal baru yang dilihatnya selalu melahirkan rasa penasaran. Saya terus berusaha memanfaatkan momen kepo Nala sebagai media belajar dan pengajaran.
Kali ini giliran si ayah mendapat aksi seru dari Nala.
Melihat ayahnya sedang meneliti mesin, Nala langsung berbinar. Dibuntutinya si ayah sambil melontarkan banyak pertanyaan. Setiap yang disentuh ayahnya, Nala pun menunjukkan jarinya dan bertanya.
Itu kenapa, Ayah?
Itu apa namanya, Ayah?
Itu buat apa, Ayah?
Kakinya sampai berjinjit ingin melihat lebih jelas. Lompatan kecil juga terlihat karena ingin menggapai sesuatu.

Sesekali Nala diam mendengarkan dan mencerna penjelasan dari sang Ayah. Matanya mengamati setiap gerakan Ayah dan memperkirakan sesuatu.
Gaya belajar visual, auditory, dan kinestetik menjadi satu dalam aktifitas seru ini. Namun secara keseluruhan lebih dominan gaya belajar kinestetiknya.
Terus kembangkan rasa ingin tahumu, Nak. Agar semakin banyak ilmu yang didapat.

4.      Hari ke Empat
Mengenal Warna Lebih Banyak..
Edukasi tidak harus dengan buku dan pulpen. Mengeksplor apa saja yang ditemui juga bisa menjadi cara belajar yang menyenangkan. 
Nala terpesona dengan bermacam warna yang dilihatnya di toko bangunan. Warna-warna yang tidak familiar di matanya membuat Nala tertarik. 
Biasanya hanya ada warna-warna umum yang ditemui. Kali ini banyak nama warna yang membingungkan.
Nala membaca satu per satu tulisan yang mewakili warna-warna tersebut. Jarinya menunjuk setiap tulisan. Baginya semua warna itu memiliki nama yang aneh. Ada campuran antara bahasa asing (Inggris) dan bahasa Indonesia.
Saya memberi sedikit penjelasan bahwa warna-warna tersebut sengaja dibedakan karena memiliki tingkat warna yang berbeda. Semua dibuat untuk mempermudah penyebutan kemiripan warna.
Selain belajar nama-nama warna, Nala juga belajar membedakan warna yang mirip atau setupa tapi tidak sama. .
Langkahnya berpindah dari satu ember cata ke ember lain. Dari satu warna ke warna lainnya. Mulutnya terus mengoceh menyebutkan dan menghafal warna yang ditemui.

Gaya belajar seperti ini memang lebih dominan pada diri Nala. Gaya kinestetik dan visual menjadi perpaduan yang manis dalam mengenal warna.
Terus semangat belajar ya, Nak.

5.      Hari ke Lima
Menulis Huruf Wau (Hijaiyah).
Pagi tadi memasuki tahap kedua evaluasi di tempat mengaji Nala. Materi yang di nilai bernama Al Kitabah. Para santri diberi contoh huruf Hijaiyah dan diminta untuk menulis ulang.
Awalnya Nala bersemangat menuliskan huruf-huruf Hijaiyah. Tetapi terhenti di salah satu nomor yang membuatnya patah semangat.
Huruf  Hijaiyah "Wau" membuatnya kesulitan. Nala belum mampu menulisnya dengan baik. Saya menuntunnya dengan memberi contoh. Namun, Nala tetap kesulitan hingga menulis sebisanya.
Luapan emosinya tumpah bersaan dengan penyerahan kertas jawaban pada guru mengajinya. Air matanya berderai tanda kesedihan karena merasa gagal menuliskan huruf "Wau".
Sebagai tindak lanjut dari kesulitan Nala, saya pun mengajak Nala untuk berlatih lagi.
Pertama, saya memberi contoh bentuk huruf "Wau". Memberitahukan agar Nala menirunya. Hasilnya jauh dari contoh.
Kedua, saya memberi arahan melalui pengucapan "melengkung kecil, lalu lengkung ke bawah". Hasilnya cukup bagus.
Ketiga, saya meminta Nala untuk menebalkan contoh huruf "Wau", lalu membuatnya sendiri. Hasilnya semakin bagus.

Berdasar tiga cara tersebut, Nala lebih mudah belajar menulis huruf "Wau" dengan mendengarkan arahan dan menggerakkan tangan sesuai bentuknya. Ini berarti gaya belajar Auditory dan Kinestetik lebih mengena dari pada visual.
Semangat menulis.

6.      Hari ke Enam
Asisten Cilik.
Mengamati gaya belajar Nala semakin menyenangkan. Hari-hari sebelumnya selalu tanpa rencana. Begitu pula hari ini.
Dari pagi, Nala sudah ikut berbelanja sayuran. Sudah lama tidak nguprek di dapur. Jadilah rindu dengan masakan sendiri. Menunya sederhana. Tempe goreng, telur goreng, sayur sop, dan sambal tomat.
Kesibukan di dapur membuat Nala merasa kesepian. Padahal sudah dapat ijin memutar lagu-lagu kesukaannya di gadget.
Nala pun menyusul dan ingin membantu. Ia ingin mencuci piring kotor. Mommy pun menyambutnya dengan binar bahasa. Kesempatan bagi Nala untuk belajar 😍.
Saya memberinya bagian membilas sendok, garpu, dan gelas plastik. Ini demi keamanan bersama.
Nala sangat tidak sabar ingin segera menyentuh air. Namun, sebelum ia terjun ke wastafel, Mommy mengajukan beberapa pertanyaan.
👩 : Nala tahu caranya bilas?
👧 : Iya, tahu.
👩 : Tahu darimana?
👧 : Nala kan sering lihat Mommy cuci piring.
👩 : Airnya besar atau kecil?
👧 : Kecil aja biar ga ciprat.
👩 : Okelah, boleh bilas sendok, garpu, sama gelas saja ya.
👧 : Piring sama gelas lain sekalian, Mom. Biar Nala aja yang bilas semua.
👩 : Gelas lain boleh, tapi nanti kalau sudah pintar ya.
👧 : Okelah (mengangguk)

Proses membilas pun dimulai. Nala memutar kran air dengan volume kecil. Lalu satu demi satu sendok, garpu, dan gelas dibilas dengan baik dan bersih.
Yeeea.., Nala berhasil membilasnya. Sesekali terdengar celoteh dengan tangannya yang masih terus bergerak. Menceritakan sendok atau garpu yang sebelumnya ia gunakan.
Selesai membilas, Nala mencuci tangan dan mengeringkannya. Sama persis dengan kebiasaan Mommynya. Ternyata selama ini Nala mengamati, merekam, dan menyimpannya dengan baik. Hingga waktunya tiba, ia bisa melakukannya dengan baik.

Terima kasih ya, Nak, sudah bantu Mommy hari ini.
Terima kasih juga sudah membuktikan bahwa kamu mampu. 😘.
Gaya belajar Nala terkombinasi dari visual dan kinestetik. Selama membilas, Mommy tidak bersuara memberi intruksi. Hanya mengamati dan merekamnya. Jadilah mengetahui gaya belajar Nala.

7.      Hari ke Tujuh
Membuat Telur Dadar.
Pagi tadi cuaca dingin-dingin empuk. Badan rasanya betah bermanja di dalam rumah. Namun, lambung memberi kode ingin segera di isi. Jadilah memanfaatkan persediaan yang ada di dapur.
👩 : Nak, hari ini kita sarapan telur ya.
👧 : Oke
👩 : Nala mau telur mata sapi atau telur dadar?
👧 : Telur dadar aja.
👩 : Ya, udah. Mommy buat dulu ya.
👧 : Nala aja yang buat sendiri. Boleh kan, Mom? (pasang wajah memelas)
👩 : Okelah. Ayo kita buat sekarang.
👧 : Horeeee. Sayang Mommy. (peluk dan cium)

Nala pun ikut berangkat ke dapur. Mommy menyiapkan irisan daun bawang, sebutir telur ayam, garam, garpu, dan wadah plastik.
Keinginan Nala untuk belajar membuat telur dadar tentu tidak akan Mommy sia-siakan. Mommy jadi bisa mengamati gaya belajar Nala. Kali ini sengaja mencoba gaya belajar auditory. Mommy hanya mengamati dan memberi arahan.
a.    Ambil garam secukupnya -> Lima kalu percobaan menakar garam hingga mendapat garam sesuai kebutuhan.
b.      Masukkan irisan daun bawang -> Oke
c.  Pecahkan telur dengan garpu -> Cangkang telur pecah dengan kondisi yang cukup mengenaskan.
d.     Tuang telur ke dalam wadah -> Sebagian telur memenuhi tangan Nala.
e.       Aduk telur secara perlahan -> Tangannya mengaduk suka-suka. Telur nyaris ke luat wadah.

Selama proses tersebut, Mommy hanya memberi intruksi. Perlu pengulangan beberapa kali hingga Nala memahami petunjuk yang disampaikan. Tubuhnya fokus dan tidak ingin diberi contoh. Jadi semua suka-suka Nala. Hasilnya cukup memuaskan. Meskipun tidak semua isi telur berhasil pindah ke wadah karena yang sebagian berhamburan di tangan Nala.

Tahap selanjutnya yaitu menggoreng telur. Nah, Mommy belum memberi ijin pada Nala untuk berdekatan dengan kompor dan api. Sempat ada rengekan dan protes dari Nala. Namun setelah diberi penjasan, Nala bisa menerimanya. Ia hanya bisa melihat proses menggoreng dari kejauhan. .
Gaya belajar auditory ternyata bisa juga diterapkan pada Nala. Meski perlu pengulangan dan penekanan pada setiap kata, tetapi Nala berhasil memahaminya.
Tetap semangat belajar, Nak. Kelak kamu yang akan membuatkan sarapan untk kami.



Berdasarkan pengamatan selama satu minggu, gaya belajar Nala cenderung ke model Visual dan Kinestetik.

#SehariSatuTulisan

Posting Komentar

Terima kasih sudah main ke Catatan Tirta