√Pamongan Sebagai Wujud Kasih dan Sayang
Header catatantirta.com

Pamongan Sebagai Wujud Kasih dan Sayang



Berkumpul Bersama Teman-Teman Sungguh Menyenangkan

Nala merupakan cucu pertama dari keluarga besar saya dan suami. Bisa dibilang dia kesayangan dari keluarga besar kami. Sejak kehadirannya di dunia, dua keluarga besar  menyambut bahagia penuh suka cita. Kami berpesan pada orangtua bahwa memberi cinta pada Nala sewajarnya saja. Kami menghindari perlakuan berlebihan karena khawatir akan menimbulkan kebiasaan yang kurang baik. Bukan tidak senang melihat anak kami menjadi kesayangan di dua keluarga besar, akan tetapi apabila semua memberi berlebihan tentu dampaknya juga tidak baik.

Orang tua dari suami punya kebiasaan unik yang berasal dari tradisi Jawa kuno. Pamongan, begitu mereka menyebut tradisi tersebut. Pamongan merupakan sebuah acara makan bersama yang dilakukan setiap hari lahir pada penanggalan Jawa. Hari lahir atau yang sering disebut weton, berulang sekitar 35 hari sekali. Pamongan ini semacam nasi tumpeng lengkap dengan lauk pauk dan kerupuk. Tradisi pamongan dilakukan sebagai rasa syukur atas nikmat dan karunia yang diberikan Tuhan pada seseorang. Kalau saya melihatnya sebagai sedekah dan berbagi kebahagiaan pada orang-orang di sekitar tempat tinggal.

Awalnya saya dan suami merasa tradisi pamongan tersebut tidak perlu dilakukan. Khawatir ada unsur syirik yang ikut di dalamnya. Namun kemudian kami berpikir bahwa itu adalah wujud cinta dan kasih sayang nenek dan kakek dari anak kami. Mereka jauh dari kami dan ingin menyalurkan rasa sayang mereka pada cucu semata wayang. Melalui pamongan itulah mereka menunjukkan kepedulian mereka. Akhirnya saya dan suami pun sepakat untuk membiarkan mereka menjalankan tradisi tersebut. Intinya adalah berbagi dan bersyukur atas keberkahan dan karunia dari Tuhan.

Nala lahir tepat satu minggu sebelum bulan Ramadhan. Hal ini membuat saya dan suami tidak mudik lebaran karena usia Nala baru sekitar satu bulan. Kesehatan Nala menjadi alasan utama yang membuat kami tidak pulang. Bersyukur seluruh keluarga besar kami memahami hal tersbut. Bahkan pasca Idul Fitri banyak yang berkunjung ke rumah kami. Sungguh bahagia mendapat cinta dan perhatian dari mereka.

Setelah melewati hari raya Idul Fitri di perantauan, saya dan suami berniat pulang kampung pada bulan januari. Usia Nala sudah mencapai enam bulan dan sudah cukup siap untuk diajak bepergian. Kami memesan tiket kereta api dan travel sebagai transportasinya. Semua sudah kami persiapkan dengan baik. Perjalanan menuju kampung halaman menjadi begitu spesial karena kami membawa satu anggota baru dalam keluarga besar. Nala, cucu kesayangan mereka.

Ketika mengunjungi rumah keluarga suami, kebetulan bertepatan dengan hari lahir Nala. Tradisi pamongan menjadi lebih meriah karena si empunya weton ada di tengah-tengah acara tersebut. Seperti biasa banyak anak yang datang pada acara pamongan. Kali ini mereka sudah tidak penasaran lagi akan sosok yang selama ini menjadi maskot di acara tersebut. Anak-anak bergantian menyalami Nala, bahkan sebagian besar gemas dengan pipinya yang lumayan berisi. Beruntung Nala tidak rewel dan menikmati acara pamongan tersebut. Nala terlihat bahagia mendapati banyak teman yang bermain bersama dengannya.

Kami melihat kebahagiaan terpancar dari wajah nenek dan kakek Nala. Mereka terus menebar senyum sepanjang acara berlangsung. Semua dipersiapkan dengan lebih istimewa. Mulai dari jenis masakan untuk pamongan sampai banyaknya undangan pamongan yang lebih dari biasanya. Saya dan suami membiarkan mereka melakukannya tanpa ada larangan apapun. Melihat semangat dan antusias mereka membuat kami tahu bahwa kasih sayang antara nenek dan kakek pada cucunya begitu besar dan tulus.

Terima kasih nenek dan kakek telah menyayangi Nala dengan istimewa. Sampai saat ini pun tradisi pamongan untuk Nala masih terus dilakukan. Semoga nenek dan kakek sehat selalu serta bahagia sepanjang masa.




#30DWCjilid13
#Day5
#Odopfor99days


Posting Komentar

Terima kasih sudah main ke Catatan Tirta