√Haflah Wisuda ke-II TPA Al - Barokah
Header catatantirta.com

Haflah Wisuda ke-II TPA Al - Barokah



Wisuda Santri dan Santriwati

Bagi para orang tua, melihat putra - putrinya menjadi anak sukses merupakan sebuah kebahagiaan juga kebanggaan. Bahagia karena telah mendampingi anak hingga bisa menjadi berhasil. Bangga melihat keberhasilan yang diperoleh anak. Rasanya seperti terbayar sudah jerih payah dan pengorbanan yang selama ini diberikan. Salah satu wujud keberhasilan sebagai orang tua yaitu ketika putra - putrinya cemerlang dalam dunia pendidikan. Baik pendidikan formal maupun nonformal. 

Sebuah Taman Pendidikan Al Qur'an atau yang lebih di kenal dengan sebutan TPA menjadi salah satu media nonformal bagi anak untuk menuntut ilmu agama Islam. Anak laki - laki diberi sebutan santri dan anak perempuan mendapat gelar santriwati. Mereka belajar mengucap huruf  Hijaiyah dan cara membaca Al Qur'an yang baik dan benar. Meskipun TPA  dikategorikan dalam pendidikan nonformal, tetapi keberadaannya sangatlah penting demi mencetak generasi Qur'ani. Cinta Al Qur'an dan cinta Islam sampai mati.

Salah satu TPA di lingkungan tempat saya tinggal, bernama TPA Al-Barokah baru saja mengadakan acara Haflah Wisuda Ke-II. TPA Al-Barokah ini menginduk pada TPA An-Nadhliyah dengan menggunakan media jilid. Mulai dari jilid 1 sampai 6, kemudian dilanjutkan dengan mempelajari Al Qur'an. Haflah wisuda ini dilaksanakan sebagai apresiasi kepada santri dan santriwati yang telah menyelesaikan pembelajaran jilid 1 sampai 6 dan akan naik ke tingkat Al Qur'an. Sebagai tanda bahwa santri dan santriwati tersebut telah lulus, maka diadakan wisuda bahwa mereka telah layak untuk mulai belajar baca Al Qur'an secara utuh. Kali ini ada lima orang yang telah sukses menyelesaikan pembelajaran hingga jilid 6.  Mereka terdiri dari satu orang santri dan empat orang satriwati.

Haflah Wisuda ini merupakan yang kedua kalinya dilaksanakan oleh TPA Al- Barokah. Acara tersebut digelar pada hari Minggu, 17 Desember 2017 di Mushola Al - Barokah. Peserta yang hadir adalah para santri dan santriwati yang berjumlah sekitar 130 orang, para pengajar / ustadzah, wali santri dan beberapa undangan. Satu yang spesial dari acara ini yaitu hadirnya seorang pendongeng yang sangat dinanti semua orang. Bukan hanya para santri dan santriwati, tetapi pengajar dan wali murid pun mengidolakan beliau.



Tampilan dari para santri dan santriwati mengawali jalannya acara wisuda tersebut. Para santri dan satriwati yang terdiri dari beberapa kelas bergantian membawakan lagu - lagu Islami dan juga Mars An-Nahdiyah. Masing - masing kelas mempersembahkan penampilan terbaik mereka. Semua membuat para ustadzah dan wali santri bangga. Tepuk tangan dan senyum bahagia menemani setiap akhir persembahan. Suasana menjadi riuh dan sangat menyenangkan. Setelah semua santri dan santriwati menampilkan kebolehan mereka, dilanjutkan sambutan dari perwakilan TPA An-Nahdiyah, pengurus Dkm Al - Barokah, perwakilan tokoh masyarakat, perwakilan dari wali santri, dan terakhiroleh  ketua TPA Al - Barokah.

Santri-Santriwati Bersama Orang Tua
Acara inti dari Haflah wisuda ini yaitu ketika lima orang santri yang telah lulus dipanggil untuk menerima sertifikat kelulusan. Melihat mereka menggunakan toga sambil memegang sertifikan membuat semua hadirin bertepuk tangan. Para ustadzah bergantian memberi selamat pada mereka juga orang tua yang mendampingi. Momen ini menjadi salah satu motivator bagi santri dan satriwati lain agar belajar lebih giat, terus belajar hingga mencapai prestasi seperti mereka.

Kak Mul ( Pendongeng )
Acara inti yang kedua yaitu penyampaian kisah Islami bertemakan Maulid Nabi Muhammad SAW yang disampaikan oleh seorang pendongeng terkemuka. Pendongeng yang digandrungi tersebut bernama Mulyadi atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kak Mul. Sosoknya sudah tidak asing lagi bagi para santri dan santriwati karena beliau sudah pernah hadir pada Haflah wisuda TPA Al - Barokah yang pertama. Kak Mul lahir di kota Bekasi pada tanggal 18 Maret 1982 dan telah mempunyai tiga orang anak. Sekarang ini beliau tinggal di Griya Husada Asri Blok C7 No.7, Bantar Gebang, Kec. Setu, Kab. Bekasi. Apabila ingin mengundang beliau bisa menghubungi ke nomor 0857-7116-2718 atau  bisa langsung datang ke alamat yang telah saya sebutkan sebelumnya.

Kak Mul merupakan pendongen Islamic yang sangat spektakuler. Kepandaiannya dalam mendongeng mampu menyihir semua santri dan santriwati  hingga fokus untuk menyimak apa yang beliau sampaikan. Sungguh ini menjadi nilai lebih untuk beliau. Pembawaannya ketika mendongeng membuat mata semua yang hadir selalu menuju pada dirinya sehingga menyimak dengan baik dan tenang saat beliau beraksi. Dengan dibumbui suara - suara lucu dan gerakan yang menarik membuat para santri dan santriwati senang serta penasaran ingin mengikuti kisah yang sedang disampaikan.

Kisah yang beliau sampaikan terkait peringatan Maulid nabi Muhammad SAW yaitu tentang kehidupan Rasulullah di jaman Jahiliah. Pada jaman jahiliah atau yang sering disebut jaman kebodohan ini, masyarakatnya masih menyembah berhala. Berhala adalah patung - batung buatan tangan manusia yang di puja dan dijadikan sebagai Tuhan. Betapa bodohnya penduduk pada masa itu, karena menganggap benda mati ciptaan sendiri sebagai Tuhan tempat meminta. Mereka mengagungkan berhala yang terbuat dari tanah liat dengan wujud yang berbeda - beda sesuai dengan hasil karya mereka. Inilah sebabnya disebut jaman kebodohan. Bodoh karena menyembah patung yang jelas - jelas benda mati buatan mereka.

Kemudian Allah SWT menghadirkan nabi besar Muhammad SAW di tengah - tengah mereka. Mengajak semua penduduk menuju jalan kebenaran. Mengajak mereka untuk meninggalkan patung - patung itu dan menyembah hanya kepada Allah SWT yang Maha Esa. Nabi Muhammad SAW merupakan nabi akhir jaman, penutup dari seluruh nabi yang telah ada sebelumnya. Beliau manusia yang paling sempurna. Perangainya lembut dengan tutur kata dan sikap yang sangat sopan serta santun. Beliau hidup dalam kesederhanaan dan selalu memberi tauladan yang baik.

Pada jaman jahiliah, ada sebuah stigma dari masyarakatnya yang sangat memprihatinkan. Para orang tua akan merasa malu jika mempunyai anak perempuan. Mereka lebih memilih untuk mempunyai anak laki - laki yang dianggap sebagai sebuah kebanggaan dalam keluarga. Anak perempuan mendapat predikat anak yang tidak berguna dan akan menyusahkan kehidupan keluarga. Mereka akan membunuh hidup - hidup seorang bayi baru lahir jika diketahui berjenis kelamin perempuan. Rasa malu membuat orang tua kehilangan akal sehatnya hingga tega mengubur hidup - hidup bayi perempuan yang tidak berdosa.

Hadirlah nabi Muhammad SAW sebagai pembawa cahaya kebaikan. Beliau memberi pencerahan kepada para penduduk untuk memeluk agama Islam. Ada yang tersadar akan kesalahan menyembah berhala, ada pula yang menentang ajakan kebaikan beliau. Bahkan Rasulullah SAW sering mendapat perlakukan yang kasar. Namun beliau tetap sabar dan tidak pernah dendam atas sikap jahat mereka. Nabi Muhammad SAW justru mendo'akan agar Allah SWT memberikan hidayah dan membukakan pintu hati mereka. Beliau dengan segala sifat mulianya selalu berusaha mengubah budaya bodoh yang dianut pada jaman jahiliah tersebut menjadi manusia yang lebih beradab.

Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita agar menghormati perempuan, terutama ibu. Ibu merupakan sosok yang paling berjasa atas hidup seseorang. Ibu yang dengan sukarela mengandung, melahirkan, menyusui, dan mencurahkan segala kasih sayang kepada anak - anaknya. Rasulullah SAW menghilangkan persepsi tentang anak permpuan yang tidak berguna. Beliau mengajarkan peran penting perempuan dalam kehidupan. Seorang perempuan akan menjadi ibu dimana Allah SWT meletakkan surga di bawah telapak kakinya. Hal ini mengandung arti betapa mulianya kedudukan seorang ibu hingga surga bisa diperoleh melaui bakti cinta terhadap ibu. Cinta dan kasih seorang ibu mengalir tanpa batas. Mengabdikan segenap jiwa raga untuk kebahagiaan keluarga. Begitu pentingnya peran seorang ibu, sehingga Rasulullah SAW sangat memuliakannya.

Kisah keteladanan nabi Muhammad SAW ini disampaikan oleh Kak Mul dengan penuh semangat. Gaya interaktifnya pada santri dan santriwati membuat suasana menjadi sangat menyenangkan. Apa yang disampaikan oleh kak Mul mudah dicerna sehingga para santri dan santriwati mengerti tentang hikmah dari kisah tersebut. Bahwa kita semua harus memuliakan perempuan terutama ibu kita. Menghormati dan menyayangi orang tua menjadi salah satu jalan menuju surga. Para santri dan santriwati sangat antusias menyimak setiap kata yang disampaikan olek kak Mul. Bahkan mereka tidak mengijinkan kak Mul untuk beranjak dari hadapan mereka. Rasanya ingin tertus mendengar kisah - kisah Islami lain yang mengagumkan.

Muhasabah Diri
Di penghujung kisah, kak Mul mengajak para santri dan santriwati juga seluruh hadirin untuk bermuhasabah diri. Memohon ampun kepada Allah SWT atas segala dosa yang telah diperbuat. Memohon maaf atas segala perilaku tidak menyenangkan yang pernah dilakukan kepada orang tua. Sebuah renungan tentang kekhilafan khas anak - anak yang sering diperbuat, seperti membantah orang tua, malas belajar, malas mengaji dan sering marah kepada orang tua. Semua santri dan santriwati diajak untuk intropeksi diri. Mengingat kembali perilaku salah yang sering dilakukan kepada orang tua, terutama pada ibu.

Jika suatu hari nanti, ibu telah tiada, maka habislah sudah waktu untuk bercengkrama. Tertutup sudah kesempatan untuk dapat memeluk ibu. Tubuh yang telah terbujur kaku tidak lagi dapat memberikan senyum termanisnya. Allah SWT telah mengambil nyawanya hingga tidak ada lagi canda tawa dari bibirnya. Ketika ibu telah tiada, maka penyesalan demi penyesalan akan hadir. Menyesal karena sering kali membantah perintahnya. Menyesal karena tidak mendengarkan nasehat - nasehatnya. Semua penyesalan yang hanya menyisakan kesedihan.

Para santri dan santriwati mulai terdiam. Meresapi setiap kata demi kata yang disampaikan kak Mul. Mereka tertunduk. Bulir hangat dari pelupuk mata mulai mengalir. Semua hanyut dalam renungan. Mengingat segala kesalahan yang dilakukan terhadap ibu. Tetes demi tetes air mata mewakili rasa sedih dan menyesal atas sikap yang kurang baik. Isak tangis perlahan mulai terdengar. Bibir mereka hanya menyebut satu nama. Ibu, mama, atau umi menjadi panggilan disela - sela rasa haru yang menyelimuti suasana muhasabah. Tidak hanya santriwati yang menangis, tetapi banyak juga santri yang berderai air mata. Mereka semua tertunduk. Mata merah dan raut penyesalan terpampang jelas di wajah mereka. Sungguh muhasabah ini telah menyentuh hati suci mereka. Benar - benar keharuan yang luar biasa. Ternyata seluruh hadirin juga ikut larut dalam renungan tersebut. Para ustadzah dan ibu dari santri dan santriwati nampak menyeka air mata yang terlanjur mengalir.

Muhasabah diakhir dengan pelukan para santri dan santriwati kepada ibu mereka yang turut hadir di acara Haflah. Seluruh hadirin larut dalam cinta dan kasih sayang. Dekapan seorang ibu yang menentramkan hati menjadi obat paling manjur bagi setiap anak.

Semoga para santri dan santriwati menjadi anak - anak yang sholeh dan sholehah. Berbakti pada kedua orang tua, berperilaku baik, dan mengamalkan keteladanan nabi Muhammad SAW.

Aamiin. Aamiin. Ya Rabbal Alamiin.


Note :
~        Terima kasih kepada para pengajar / ustadzah yang telah mendidik para santri dan santriwati menjadi generasi yang Qur'ani.
~        Terima kasih kepada para wali santri dan santriwati yang telah membantu acara Haflah Wisuda ke-II TPA Al - Barokah sehingga dapat berjalan lancar dan sukses.
~        Terima kasih pada seluruh undangan yang telah bersedia untuk hadir.
~        Terima kasih pada kak Mul atas ilmu yang sangat bermanfaat dan muhasabah yang luar biasa.



   









Posting Komentar

Terima kasih sudah main ke Catatan Tirta