√Hutang Vivi
Header catatantirta.com

Hutang Vivi



Krik krik krik krik , suara ini selalu menjadi irama malam di desa tempat Vivi tinggal. Sebuah desa kecil yang diapit oleh gunung Sindoro dan Sumbing. Udara dingin menyelimuti seluruh penjuru desa. Sebuah tempat yang berada sekitar 3000 meter di atas permukaan laut. Desa yang damai, asri, sejuk, aman dan tentram. Masyarakatnya hidup berdampingan dengan kesederhanaan. Air tak perlu menggali ataupun membayar karena sudah dicukupi oleh alam. ekosistem dijaga dan dirawat dengan baik karena mereka juga bergantung pada hasil yang alam berikan. Sayur mayur jarang sekali diperjualbelikan, cukup dengan menanamnya di halaman rumah ataupun di ladang. Bahkan keseimbangan gizi yaitu protein nabati dan hewani pun di dapat dengan memelihara dan memanen sendiri. Hasil bercocok tanam andalan desa ini adalah tembakau dan kopi. Kedua tanaman ini dibudidayakan oleh warga desa karena memang cocok dengan lingkungan desa yang sejuk. Tidak terkecuali orang tua Vivi. Bapak dan ibu Vivi adalah orang tua sederhana. Hanya berijasahkan Sekolah Rakyat ( saat ini disebut Sekolah Dasar ). Pada masa itu, belajar di sekolah masih sedikit peminatnya. Beruntung keduanya disekolahkan hingga tamat.
Meskipun hanya tamatan SR ( Sekolah Rakyat ), orang tua Vivi sangat peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Mereka berusaha menyokong pendidikan anak-anaknya sampai tingkat tinggi. Dengan beternak sapi, kambing dan ayam serta menanam kopi juga tembakau untuk membiayai sekolah Vivi dan kakak tunggalnya. Sebidang kecil tanah ladang di pinggir hutan menjadi kunjungan sehari-hari kedua orang tua Vivi. Orang tua yang tangguh kebanggaan Vivi dan kakaknya.
Sedari Vivi kecil, keluarganya hidup sederhana. Wejangan bapak dan ibu yang akan selalu diingat sepanjang hidupnya. "Berusahalah menjadi orang berguna, jangan malu dengan status sosial karena itu akan tertutupi jika kamu berprestasi. Belajarlah dengan tekun dan sungguh-sungguh, persoalan biaya adalah tanggung jawab bapak dan ibu. Kewajiban kamu dan mas mu adalah sekolah setinggi mungkin dan buatlah kami bangga ". Mungkin kata - kata ini sudah umum diucapkan banyak orang tua, tetapi bagi Vivi dan kakaknya pesan ini adalah harapan kedua orang kesayangan mereka.
Hari berganti , tahun pun terus berlalu. Tibalah saat sang kakak lulus dari Sekolah tingkat atas, lulus sebagai salah satu siswa terbaik di sekolahnya. Keluarga menyambutnya dengan kebanggaan. Namun di balik kebahagiaan itu, terselip kesedihan. Sang kakak tidak bisa melanjutkan studinya ke tingkat perguruan tinggi. Ekonomi orang tua Vivi belum cukup untuk menyokong kakaknya sampai tingkat perguruan tinggi. Sang kakak berbesar hati, tidak ada rasa kecewa karena langkahnya harus terhenti. Ia tahu dalam diam orang tua nya ada rasa sedih dan bersalah. Saat itu Vivi masih duduk di bangku Sekolah tingkat pertama. Vivi berdiri di balik pintu,  ia mendengarkan percakapan bapak dan kakaknya. Inti dari perbincangan itu adalah sang kakak tidak menuntut untuk di sekolahkan lagi, kakaknya paham dan mengerti bahwa prioritas adalah mempertahankan kelanjutan sekolah Vivi. Biarlah kakak mengalah karena yang terpenting bapak dan ibu tetap bisa membiayai Vivi. Walaupun Vivi adalah anak perempuan tetapi dia juga berhak mendapat pendidikan yang layak. Mendengar pembicaraan itu, Vivi sangat tersentuh, betapa ini adalah budi baik dari sang kakak. Vivi pun bertekad bahwa dia akan rajin belajar dan membanggakan kakak juga orang tua nya. Vivi tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan kakak semata wayang nya itu. Sang kakak pun akhirnya merantau keluar kota untuk mencari pekerjaan.
Beberapa tahun kemudian, sang kakak mengabarkan bahwa dia mendapat pekerjaan yang bagus. Penghasilannya bisa dibilang lumayan banyak. Kakaknya pun mulai membantu biaya sekolah Vivi. Sebagai balasan dari ketulusan dan kebaikan sang kakak, Vivi pun menunjukkan prestasi gemilang. Kelulusannya di Sekolah Menengah Atas dengan nilai memuaskan membuat Vivi dengan mudah mendapat tempat di Perguruan Tinggi Negeri. Ketika itu, perekonomian keluarga Vivi sudah jauh lebih baik. Vivi menyampaikan kabar gembira ini kepada kakaknya. Melalui telepon seluler pemberian kakaknya, Vivi berbicara. " Mas, aku diterima di fakultas negeri. Menurut kamu bagaimana, apakah aku ambil? Aku merasa berat, dulu pendidikanmu terhenti karena mengalah demi aku. Apakah kamu ikhlas jika aku melampaui mu?". Tanpa disangka sang kakak justru marah. Dengan sedikit nada tinggi di ujung telepon, dia berkata :" kamu ini gimana sih de, kenapa berkata seperti itu. Aku ini kakak mu dan aku punya tanggung jawab juga atas dirimu. Dulu aku mengalah karena hanya itu yang bisa aku lakukan sebagai tugasku menjadi kakak mu. Sekarang mengapa kamu merasa berat? Lanjutkan pendidikan mu, buatlah bapak ibu dan mas mu ini bangga padamu". Tidak disangka begitu hebat kata - kata kakaknya hingga Vivi tidak dapat menahan air matanya. Di akhir perbincangan itu, Vivi berterima kasih kepada sang kakak.
 Bagi Vivi ini adalah sebuah hutang yang harus dia tebus. Kebaikan dan ketulusan sang kakak dan orang tua tercinta memotivasi perjalanannya. Dan dia pun memantapkan hati, melangkah dengan pasti bahwa dia akan membuat mereka bangga. Mengukir prestasi, menjadi orang yang berguna dan menjadi kebanggaan keluarga.
Janji itu terpatri dalam hati.



Posting Komentar

Terima kasih sudah main ke Catatan Tirta