√Aku Pantas Mati
Header catatantirta.com

Aku Pantas Mati



Kehadiranku banyak menuai kontroversi. Aku sadar, diriku ini hanya pelengkap diantara jutaan nyawa. Meskipun aku punya banyak manfaat, tetap saja ada yang mengutukku. Entah itu sebuah kesalahan dari mereka sendiri atau ketidakmampuanku untuk menahan emosi. Sering kali terjadi kelalaian, namun lagi - lagi akulah yang selalu jadi kambing hitam. Keberadaanku harus mengikuti kemauan mereka. Aku tidak punya hak sedikitpun untuk menyampaikan keinginanku.

Malam itu, malam paling buruk yang menimpaku. Sepotong bara memicuku untuk bangkit di gelapnya malam. Teman - temannya melambai - lambai, mengejekku hingga akupun marah. Ku lahap mereka tanpa kasihan. Aku semakin kalap ketika bisikan - bisikan itu semakin kencang di telingaku. Membuat sesak dan akupun melepas semua energi kemarahanku. Aku menyambar semua yang ada di sekelilingku. Aku gelap mata, hilang semua kesadaranku. Aku menjalar, memangsa semua wujud hidup dan mati tanpa belas kasihan. Jeritan melengking tidak sampai di telingaku. Aku terlanjur menjadi raksasa tanpa rasa. 

Tubuhku menyala. Semakin merah hingga membiru. Aku sudah hilang kendali. Lidahku menjilat setiap benda, menumpahkan semua kekesalanku. Aku meronta tanpa suara, memuaskan amarahku. Kakiku menyampangi segala penjuru. Menggerus benda - benda rapuh yang menghalangi jalanku. Tanganku mencekik puas hingga semua menjadi hitam. Mataku terpapar kabur kemurkaan, menutupi segala akal yang hanya sejengkal. Lupa. Aku lupa akan diriku yang sesungguhnya.

Aku terus membabi buta. Membuat kegaduhan. Menimbulkan tangis kepiluan. Aku membangunkan orang - orang yang sedang lelap di alam mimpi tanpa batas. Ah, peduli apa aku atas mereka. Mereka sendiri yang telah membangkitkan angkara murka. Jangan salahkan aku atas kelalaian yang kalian buat sendiri. Rasakan akibat dari kecerobohan kalian. Jangan jadikan aku sebagai tameng yang menutupi kekhilafan kalian. Aku benci wajah - wajah itu. Mimik yang dibuat- buat, seolah semua ini adalah kesalahanku. Aku benci umpatan - umpatan itu yang menyebutku sebagai dalang dari semua kerusakan ini. Benci. Aku sungguh membenci perbuatan kalian itu. 

Tapi, apalah aku. Hanya disanjung ketika dibutuhkan. Namun dicaci ketika mereka melakukan kesalahan.
Apalah aku ini. Saat kecil, orang - orang menempatkanku di salah satu ruang rumah mereka. Terkadang ada juga yang membawaku sebagai sarana pencari rejeki. Adapula yang memanggilku untuk sekedar menghabiskan malam bersama bintang - bintang. 

Siapa aku ini. Aku yang hanya mempunyai kewajiban tanpa ada hak apapun atas diri mereka. Aku yang rela dimanfaatkan jika mereka membutuhkanku. Aku yang menjadi pendosa ketika mereka kehilangan harta benda. Aku yang menjadi terpidana ketika beberapa nyawa melayang ketika amarahku memuncak.
Sadarkah kalian, bahwa aku ini hanya mengikuti apa yang kalian ciptakan. Meski terkadang Sang Maha Kuasa ikut andil dalam kehadiranku, tetapi sesungguhnya itu adalah akibat dari perbuatan kalian sendiri. DIA hanya ingin memberi sedikit teguran agar kalian sadar atas apa yang kalian perbuat. Sadar, segeralah kalian sadar setelah akupun kembali sadar.

Kesadaranku mulai pulih ketika semburan air membasahi tubuhku. Perlahan memulihkan mataku yang gelap oleh kepulan asap hitam. Membuatku melihat dampak dari kemarahanku. Menyisakan penyesalan tak berarti atas kemurkaanku. Aku tertunduk lesu, menciut diantara puing hasil dari keganasanku. Salahkah aku? Dosakah aku? Aku memang yang membinasakan semua, tapi bukan sepenuhnya atas keinginanku. Aku hanya perantara. Aku hanya melaksanakan kewajibanku. 

Aku akan padam ketika tumbahan air dari dinas pemadam kebakaran membasahi tubuhku. Aku tahu kalian ingin segera membunuhku. Jika kalian ingin aku mati, ya tentu saja aku pantas mati. Aku pantas mati setelah melahap yang hidup dan yang mati.




#SerpihanCahaya
#SMANSAMenulis05
#Tantangan30hariMenulis
#SeptemberMenulis(25)

    

3 komentar

Terima kasih sudah main ke Catatan Tirta